DAKWAH DAN PENDIDIKAN (Sebuah Kajian Terminologis)


ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (النحل : 125)

Kajian bahasa (Arab) dari ayat ini sungguh luar biasa. Minimal ada beberapa point penting. Jika mayoritas muslim mau melaksanakannya dengan baik, insya Allah hasilnya akan luar biasa.

Pertama, kata ادع secara harfiah merupakan kata perintah dari akar kata دعوة yang berarti "mengajak/menyeru" (دعا - يدعو - دعوة - ادع). Karena ادع adalah kata perintah maka maknanya menjadi "ajaklah/serulah". Secara leksikal, ini berarti kita diperintah oleh Allah SWT untuk mengajak/menyeru orang lain kepada hal tertentu. Dari makna tersebut akan lahir dua pertanyaan urgen. (1) siapa yang harus diajak/diseru? dan, (2) diajak/diseru untuk kemana/ kepada apa. Jika berhenti pada kata pertama saja (ادع) maka maknanya kita harus mengajak/menyeru "siapa saja" untuk "kemana saja/kepada apa saja", dan ini adalah wajib karena Perintah Langsung dari Allah SWT. Konsekuensinya, setiap orang yang sedang mengajak/menyeru orang lain kepada sesuatu apapun berarti sedang berdakwah dan sedang melaksanakan perintah Allah tadi. Menariknya, ayat ini masih ada lanjutannya. Kita bahas pada point kedua sebagai berikut:

Kedua, dalam ayat ini Allah SWT menambahkan kata الى سبيل ربك yang (masih secara bahasa) memiliki makna "ke Jalan Tuhanmu". Dengan hadirnya kata ini, maka kata ادع (mengajak/menyeru/berdakwah) tidak dapat lagi kita artikan mengajak/menyeru kemana saja/kepada apa saja. Penambahan kata الى سبيل ربك merupakan jawaban dari pertanyaan kedua dalam paragraf sebelumnya (diajak/diseru untuk kemana/ kepada apa), sekaligus memberikan indikasi kuat bahwa kewajiban "mengajak/menyeru/berdakwah" tadi hanyalah kepada Jalan Tuhan, sedangkan mengajak kepada selain itu tidaklah wajib.

Sebelum jauh membahas kata setelahnya بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي احسن dst, yang merupakan metode mengajak/menyeru/berdakwah, ada satu hal menarik dalam ayat tentang perintah berdakwah ini. Untuk itu, ada baiknya kita fokus pada kata di point pertama dan kedua dulu sebelum membahas lebih lanjut. Point pertama, "Ajaklah/Serulah/Dakwahilah" dan point kedua, "ke Jalan Tuhanmu". Jika kita gabung maka akan menjadi, "Ajaklah ke Jalan Tuhanmu". Menariknya, dalam ayat ini tidak ditemukan jawaban dari pertanyaan pertama yang telah kita ajukan. pertanyaannya adalah, "SIAPAKAH YANG HARUS DIAJAK/ DISERU/ DIDAKWAHI?".

Inilah yang saya bilang menarik tadi. Ya, mengenai "siapa yang harus diajak/ diseru", Allah tidak menyebutkannya (secara implisit) dalam ayat ini. Kenapa tidak disebutkan secara langsung?? Apakah ini bermakna kita harus mengajak siapa saja? Apakah ada kesalahan dalam al-Qur'an? Disinilah letak sastranya, karena mustahil Allah tidak mengetahui hal ini. Terlepas dari perdebatan panjang tentang penggolongan al-Qur'an sebagai karya sastra atau tidak, yang jelas al-Qur'an merupakan kitab suci yang diakui tersusun dengan stuktur kata dan kalimat yang luar biasa. Hal itu tampak dalam ketepatan diksi, kesesuaian antara lafadz dan maknanya, dan sisi keindahan lainnya yang menjadikannya tetap tak tertandingi dan tak akan pernah tertandingi oleh ungkapan manapun.

Sebagai orang yang berfikir, dapat dipastikan kita akan dengan mudah mengetahui jawaban untuk pertanyaan pertama tadi, yakni tentang "siapa yang harus diajak/ diseru/ didakwahi". Analogi sederhananya begini, saat kita mendapat perintah seperti ini, "Ajaklah ke kelas" nah siapakah yang harus kita ajak??, jawabannya tentu, "ORANG-ORANG YANG BELUM BERADA DI KELAS". Kenapa bisa begitu?? Ya, karena tidak mungkin orang yang sudah berada di kelas kita ajak masuk ke kelas. Inilah sastra yang saya katakan menarik tadi. Tidak mungkin kita mengajak teman yang sudah berada di samping kita di dalam kelas untuk masuk ke dalam kelas.

Jadi, siapakah yang harus kita ajak ke jalan Allah. Maka jawabannya adalah, mereka yang belum berada di jalan Allah. Inilah yang seharusnya terlaksana dalam kehidupan nyata, mengajak orang lain yang belum di Jalan Tuhan untuk masuk ke Jalan Tuhan (baca: agama). Dalam dunia pendidikan juga demikian, didik dan ajarilah yang belum tahu menjadi tahu, yang tidak punya spirit menjadi penuh motivasi, yang belum berperadaban menjadi agen perubahan dlsb.

Dalam dunia dakwah dan pendidikan, kita sering salah kaprah dalam praktik. Secara teori, kita harus mengajak orang yang belum berada di Jalan Allah agar masuk ke Jalan Allah (baca: agama). Namun, faktanya, banyak diantara kita malah melakukan sebaliknya. Pendidikan, secara teori, kita harus mengajar dan mendidik siswa dari yang belum tahu agar menjadi tahu. Faktanya, tidak jarang kita abai dengan 'tuntutan' pendidikan itu sendiri. Mengajar dan mendidik hanya kita jadikan sebuah rutinitas harian yang (hampir) tak bermakna sedikitpun. Hasilnya, banyak kita jumpai lulusan dunia pendidikan yang dari berbagai aspek masih sama dengan ketika awal ia masuk. Siswa yang tadinya belum tahu, ketika lulus masih juga tidak tahu. Yang tadinya belum memiliki spirit belajar, sampai lulus juga masih tidak memiliki motivasi sedikitpun. Yang tadinya tidak bermoral juga masih banyak yang sama ketika lulus.

Baca juga: Guru dari Surga

Salah satu penyebabnya, menurut saya, karena teori dari ayat ini belum kita praktikkan. Terkadang kita hanya fokus pada siswa yang memiliki kemampuan lebih saja dan abai dengan mereka yang memiliki keterbatasan kemampuan. Ironisnya, terkadang kita bahkan sama sekali abai dengan kondisi mereka semua. Kita hanya fokus pada materi (yang terkadang juga tidak kita kuasai 100%) dan abai dengan kondisi siswa kita.

Setelah ini, harapan saya, semoga kita sama-sama berbenah, introspeksi diri sendiri. Mencoba kembali memulai dari awal. Fokus dan berikan perhatian tulus untuk peserta didik kita. Kita harus mampu mempetakan mereka. Dan kemudian, mengajak mereka yang masih berada di 'rumah ketidak-tahuan' untuk masuk ke 'rumah pengetahuan'. Mengajak mereka yang masih berada di 'rumah pengetahuan' untuk masuk ke dalam 'rumah pengembangan pengetahuan'. Mengajak mereka, siswa/i dan mahasiswa/i kita, yang masih berada di 'rumah tanpa peradaban' untuk masuk ke dalam 'rumah agen perubahan'. Jika ini berhasil, saya yakin akan muncul istilah baru bagi para Pendidik Indonesia, yakni "GURU DARI SURGA".

============
Insya Allah dalam tulisan berikutnya akan diuraikan tentang kelanjutan masing-masing kata dalam ayat diatas.

Bengkalis, 24/11/2017