Memecah Kebuntuan Saat Menulis


Setelah Sholat Dhuha, kang Salamun tiba-tiba datang ke ndalem Kyai Ma'arif. Ia tampak tergesa-gesa. Sesaat setelah sampai komplek pesantren, ia memarkirkan sepeda motornya. Bergegas lari menuju ndalem Kyai.

"Ada apa Kang, kok tampaknya buru-buru sekali?" Tanya Kyai Ma'arif.

"Nganu, Kyai. Beberapa minggu yang lalu, saya ingin sekali menulis. Beberapa hal Alhamdulillah bisa saya tuliskan. Namun sejak 3 hari yang lalu saya seperti tak bisa menulis lagi" Kang Salamun mulai bercerita..

"Kang, hati lebih kaya dari akal. Menulislah dengan hati" Kyai Ma'arif menasihati.

"Nggih, Yai... Namun saat ini saya benar-benar buntu, tak ada ide"

"Dulu, Abah pernah berpesan kepada saya untuk selalu berbuat baik. Kapanpun dan dimanapun. Meski tak punya apa-apa, tetaplah berbuat baik. Karena berbuat baik memang tak butuh apa-apa." Kyai Ma'arif mengulang wejangan itu. Nasihat yang diucapkan Abahnya sesaat sebelum wafat.

Kyai Ma'arif terdiam. Pelan-pelan beliau menghirup nafas. Beliau pandangi wajah kang Salamun yang sudah dianggap seperti anak sendiri. Setelah meminum kopi, beliau melanjutkan, "Seseorang yang punya ilmu, bisa berbuat baik dengan ilmunya. Orang kuat, bisa berbuat baik dengan tenaganya. Bahkan, jika hanya memiliki doa, kita masih tetap bisa berbuat baik dengan doa kita." Kang Salamun hanya diam, mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Kyai Ma'arif.

"Kang, jika saat ini sampean sedang tak punya ide, buntu. Maka tulislah tentang kebuntuan itu." Kyai Ma'arif mengakhiri nasihatnya.

"Menuliskan kebuntuan, Kyai?" Seakan kang Salamun masih ragu.

"Iya kang. Menulis adalah perbuatan baik. Sampean harus terus menulis. Apapun itu, tulislah. Jangan pernah membeda-bedakan, apalagi sampai berhenti menulis, jangan."

"Nggih, Yai.... kalau begitu saya pamit. Terimakasih atas nasihatnya, Kyai"

Begitulah. Akhirnya kang Salamun pulang. Ia kembali bersemangat untuk menulis. Hari ini, ia akan menuliskan kebuntuannya dalam menulis.

Setelah sholat Ashar, kang Salamun kembali menemui Kyai Ma'arif. Ia ingin menunjukkan tulisan terbarunya sekaligus minta dikoreksi.

"Bagaimana kang, sudah selesai tulisannya?"

"Alhamdulillah sudah Kyai, tapi masih jelek. Mohon kiranya Njenengan berkenan untuk mengoreksi"

"Sudah, bacakan saja, Kang. saya mau mendengar" tukas Kyai Ma'arif.

"Nggih, Kyai."

Pelan-pelan kang Salamun mulai membaca tulisannya yang hanya lima paragraf itu. Sebenarnya ia sangat malu, namun segera ia tepis rasa itu. Ia sangat ingin mendapat kritik dan saran plus wejangan dari Kyai Ma'arif.

Tiga hari yang lalu aku sempat menulis beberapa topik. Namun semuanya terhenti sebelum dapat kuselesaikan.

Pagi tadi, menjelang Shubuh, ku ulang-ulang membaca tulisan yang tak sempurna itu. Ingin sekali melanjutkannya hingga tuntas. Namun, aku bahkan tak tau harus memulai dari mana. Mereka bergelayut manja di dalam benakku. Satu demi satu menuntutku agar terurai dalam bait kata. Memaksaku untuk segera melahirkannya dalam dunia nyata.

Mereka begitu kuat, layaknya janin yang telah berusia 9 bulan 10 hari. Namun sejatinya tidak, menurutku, mereka hanyalah sebuah embrio. Pertemuan sel telur dan sperma itu baru terjadi sekitar 8 jam yang lalu. Jika kupaksakan, mereka akan prematur. Bahkan bisa kehilangan nyawa. Aku tak pernah menginginkan itu.

Bersabarlah sayang, aku akan merawatmu. Tetaplah di alam fikir untuk sementara waktu. Biar kucarikan suplemen yang dapat membantumu terlahir sehat. Jika janin manusia mendapat suplemen dari buah-buahan, daging, susu, dlsb. Maka suplemen untukmu adalah berbagai referensi yang tersebar di seluruh jagad raya ini.

Bila tiba waktumu, percayalah, engkau akan terlahir sehat. Saat itu, pandanglah dunia dengan mata kasih sayangmu. Jangan pernah merasa tinggi saat berdiri dengan yang lain. Jangan pula merasa rendah saat duduk dengan mereka. Kalian adalah sama, untaian bait kata yang akan menjelma peradaban dunia.

Percayalah sayang, engkau sama dengan mereka. Namun, bila nanti engkau terlahir cacat, maafkanlah aku yang belum bisa sempurna mencarikan suplemen untukmu. Janjiku, sedikit demi sedikit, akan kusempurnakan suplemen itu untuk adik-adikmu.

Sembari menghela nafas kang Salamun mengakhiri bacaannya. Ia memandang dalam wajah Kyai Ma'arif, mengharap saran dari beliau. Sesaat suasana hening, sebelum akhirnya Kyai Ma'arif berkata, sudah bagus, Kang. Mantap itu. Kang, teruslah menulis. Apapun, kapanpun, dan dimanapun. Menulislah dengan hati, karena semua yang berasal dari hati akan masuk ke dalam hati.

Semoga bermanfaat.

Bengkalis, 25/12/2017