Memanusiakan Manusia


Malaikat selalu benar. Iblis selalu salah. Manusia bisa benar bisa salah.

Jika memandang manusia sebagai malaikat, maka kebencian dan permusuhan akan lahir. Karena fitrah manusia bisa benar dan bisa salah. Saat manusia melakukan kesalahan, maka kebencian dan permusuhan yang akan lahir. Ah, kamu yang selama ini aku anggap seperti malaikat ternyata masih mau melakukan hal-hal tak baik seperti itu. Mulai sekarang, aku tak mau lagi berteman denganmu.

Jika memandang manusia sebagai iblis, maka pandangan buruk (su'udzan) yang akan lahir. Dan su'udzan akan melahirkan kebencian dan permusuhan pula. Saat manusia yang kita nilai iblis tadi melakukan kebaikan, umumnya, manusia lain akan menilai itu hanya sebuah pencitraan. Ah, itu kan cuma cari muka saja. Selama ini kan kerjanya hanya membuat onar di kampung kita. Gak mungkin dia berbuat baik.

Maka pandanglah manusia sebagai manusia. Makhluk yang bisa benar dan bisa juga salah. Sebagai manusia, kita harus saling mengingatkan. Hari ini mungkin kita mengingatkan saudara kita yang kebetulan sedang salah. Bisa jadi, esok atau lusa kita yang akan salah, lalu berharap diingatkan oleh saudara kita.

Gus Mus pernah berpesan melalui syairnya, "Aku menyayangimu karena kau manusia. Tapi kalau kau menghancurkan kemanusiaan. Aku akan melawanmu, karena aku manusia."

Akhirnya, semoga kita tetap menjadi manusia yang selalu memanusiakan manusia.

Bengkalis, 08/01/2018