Meniti Sejarah Menuju Masa Depan Gemilang


"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan lihatlah sejarah masa lalumu untuk pelajaran bagi masa depanmu". (QS. Al-Hasyr: 18)

Dr. (H.C.) Ir. H. Soekarno adalah Bapak Proklamator Kemerdekaan sekaligus Presiden Pertama Republik Indonesia. Tokoh legendaris yang sangat disegani seluruh dunia. Tak tanggung-tanggung, bukan hanya masyarakat Indonesia yang mengaguminya, negara-negara lain pun turut segan dengannya. Bung Karno adalah orator ulung, sosok yang sangat pandai meramu kata. Tokoh yang selalu memukau saat menyampaikan pidato-pidatonya. Meski sedang sakit, namun ia tetap tampil prima. Menyedot perhatian dan menyihir publik dengan kata-katanya.

Pasca penerbitan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar), saat memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-21, tepatnya pada hari Rabu, 17 Agustus 1966 Bung Karno menyampaikan pidato terakhirnya sebagai presiden RI di depan MPRS. Dalam pidatonya, Bung Karno tetap tampil gagah dan memukau. Pidato dengan judul "Karno Mempertahankan Garis Politiknya yang Berlaku, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah" ramai diperbincangkan. Memberi kesan mendalam bagi siapa saja yang menyaksikan dan mendengarnya. Pidato yang tidak hanya menjelaskan sikap politik Bung Karno, namun juga mengajari bangsanya tentang filosofi sejarah.

Setelah pidato tersebut, Kesatuan Aksi membuat akronim judul pidato Bung Karno dengan singkatan "Pidato Jasmerah". Tak butuh waktu lama, jargon "Pidato Jasmerah" segera melesat ke seluruh penjuru negeri. Jargon ini merupakan salah satu pesan penting Bung Karno kepada para penerus bangsa untuk tidak sekali-kali melupakan sejarah. Bung Karno, sebagai The Founding Father Negara Kesatuan Republik Indonesia, seakan mengingatkan kita akan filosofi tentang bekerjanya hukum sejarah. Bahwa sejarah bukan hanya narasi masa lalu yang boleh hilang begitu saja. Sejarah mencatat dan merekam peristiwa demi peristiwa yang terjadi sepanjang waktu. Peristiwa-peristiwa itu bagi yang mengalaminya disebut pengalaman. Namun bagi yang lain dikatakan sejarah. Menurut Prof. Dr. Mahfud MD, sejarah adalah semacam kaca benggala tentang siapa kita, harus ke mana kita, dan apa akibat-akibat dari setiap langkah kita.

Sejatinya, tidak pernah ada yang benar-benar baru dalam kehidupan di dunia. Semua yang terjadi hanyalah pengulangan pengalaman manusia sebagai pelaku sejarah. Siapa yang berbuat tidak pantas, ia akan menerima hukumannya. Dan siapa yang berlaku baik, ia akan mendapat ganjarannya. Tak peduli sebesar apapun yang kita lakukan, menurut hukum sejarah, cepat atau lambat, kita akan mendapatkan balasannya. Pilihlah sejarah yang baik, selalu berusaha melakukan kebaikan, karena ia akan menyelamatkan dan membahagiakan. Itulah pesan sejarah. Maka jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Seperti diketahui bahwa selalu ada kejahatan yang memusuhi kebaikan dalam setiap zaman. Sejarah mencatat, kebaikan selalu memiliki akhir yang membahagiakan namun tidak dengan kejahatan. Dari kisah Nabi Musa dan Fir'aun kita belajar tentang kebaikan yang mengalahkan kejahatan. Kita juga belajar tentang balasan bagi orang-orang sombong seperti fir'aun. Mereka yang sombong akan binasa dengan mengenaskan, sementara yang sholih dan baik akan memperoleh kemenangan. (Lihat: QS. Thaaha: 77-78)

Tak hanya pola kehidupan yang baik dan benar, sejarah juga mengajarkan banyak hal termasuk ilmu pengetahuan. Sebagai contoh, dengan membaca dan mengamati sejarah, Robert Fulton berhasil membuat kapal uap pertama di dunia (1803) yang dicoba di sungai Seine, Perancis. Meski kapal uap buatannya terlihat aneh, karena memiliki roda kayuh di sisi lambung, namun kapal itu dapat berjalan baik dan bergerak hilir-mudik seperti kecepatan orang berjalan tergesa-gesa di daratan. (Soekaraono, NA: 1995) Jika kita gali lebih dalam, cerita tentang kapal sesungguhnya telah diketahui oleh manusia jauh sebelum Robert Fulton dilahirkan. Kita membuat kapal sebab Nabi Nuh telah mengajarkan kita akan hal itu. (Lihat: QS. Al-Ankabut: 15)

Sejarah juga mengajari kita tentang sikap yang seharusnya dipilih dalam hidup. Orang-orang yang berjuang misalnya, mereka selalu mendapat cobaan sebelum akhirnya sampai pada satu titik yang kita sebut kesuksesan. Saat itu, pilihan kita hanya dua; (1) terus bertahan dan berdoa, atau (2) mundur dan berputus asa. Sejarah mencatat, Bahkan Nabi Muhammad Saw bersama para sahabatnya hampir putus asa karena berbagai cobaan yang datang silih berganti. Namun akhirnya Nabi berdoa dan terus berusaha hingga akhirnya kesuksesan dan kemenangan itu tiba. (Lihat: QS. Al-Baqarah: 214)

Maka pelajarilah sejarah para pendahulu sebagai ibrah untuk meniti masa depan. Mereka yang mengambil sejarah sebagai pelajaran akan diabadikan dalam sejarah. Sejarah mengajarkan kebaikan, langkah dan cara menuju kebaikan, serta sikap yang harus dipilih saat galau dalam proses menuju kebaikan. JASMERAH; Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah.

Bengkalis, 13/01/2018

*****
Soekarsono, NA. “Pengantar Bangunan Kapal dan Ilmu Kemaritiman”, Penerbit PT. Pamator Pressindo, Jakarta, 1995