Ruang dan Waktu (Dilema Sensasi dan Esensi)


Ruang dan waktu begitu urgen dalam setiap kehidupan. Siapapun selalu membutuhkan ruang dan waktu. Apapun yang ada di dunia ini tak pernah lepas dari ruang dan waktu. Ruang adalah tempat setiap makhluk beraktivitas. Sementara waktu adalah masa ketika aktivitas berlangsung.

Ada ruang dan waktu tertentu yang dianggap penting bagi seseorang. Bahkan Tuhan juga memuliakan beberapa ruang dan waktu. Misal, Makkah dan Madinah adalah tempat yang suci, termasuk Yerusalem. Ruang di sekitar Ka'bah juga begitu, merupakan satu diantara banyak ruang yang sangat baik untuk berdoa, meski doa boleh dipanjatkan dimana saja. Bahkan kita tahu, sholat di masjid lebih baik daripada di rumah. Waktu pun demikian, sepertiga malam adalah waktu yang spesial untuk berdoa. Bulan Ramadhan merupakan satu dari sekian waktu yang dimuliakan Allah swt. Rabi'ul Awal, Muharram, Dzulhijjah, dll juga merupakan beberapa waktu yang penting.

Mengetahui ruang dan waktu yang spesial, manusia berbondong-berbondong mengunjunginya. Kita melihat, orang-orang saling berebut untuk berdoa dan beribadah pada shaf-shaf awal di depan Ka'bah. Kita melihat, seluruh elemen tumpah ruah membanjiri Makkah dan Madinah setiap tahun. Kita melihat, jutaan umat manusia saling sikut demi mencium Hajar Aswad. Kita melihat, dengan mata dan kepala kita sendiri, milyaran anak manusia saling berebut untuk duduk di kursi terdepan, di atas panggung kehormatan, dan di tengah istana kemewahan. Seolah seluruh manusia di bumi ingin masuk ke dalam ruang yang sangat spesial itu. Namun, bagaimana dengan waktu? Apakah kita tergila-gila dengannya seperti kita mengejar ruang?

Dewasa ini, waktu menjadi kurang menarik untuk diperbincangkan. Tak pernah ada berita bagaimana umat manusia berlomba mengejar waktu. Tak pernah kita mendengar, remaja-remaja kampung berebut melangitkan doa dan harapan pada sepertiga malam. Tak pernah kita mendengar, wanita-wanita hamil bersemangat merapalkan firman Tuhan untuk anaknya pada setiap alunan waktu. Tak pernah kita mendengar, diskusi-diskusi sarat makna membanjiri masa muda putra-putri pertiwi, menghiasi Ramadhan yang penuh berkah, mewarnai Rabi'ul Awal yang penuh rahmat, dan meramaikan petang sebelum cahaya. Padahal, sejenak lalu kita telah sepakat bahwa ruang dan waktu sama pentingnya.

Ruang terikat dengan waktu namun tidak sebaliknya. Ruang dapat di indra namun tidak dengan waktu. Ruang adalah jasad dan waktu adalah ruh, spirit. Gelar akademik (Sarjana, Master, Doktor, Profesor) adalah ruang. Keluasan ilmu pengetahuan yang ada di dalamnya adalah waktu. Mudahnya, ruang adalah segala sesuatu yang tampak dan waktu adalah segala sesuatu yang abstrak. Karenanya, banyak orang memuja ruang tapi tidak dengan waktu. Padahal, siapa yang hidup dalam ruang maka ia akan binasa. Sementara yang memilih hidup pada waktu, ia akan abadi.

Sering kali kita sibuk mengejar ruang namun abai terhadap waktu. Senang dengan sensasi tapi murka oleh esensi. Sangat ingin bertitel sarjana namun tidak dengan ilmunya. Bahagia mendapat pangkat di mata manusia namun tidak di 'mata' Tuhan. Kita lebih senang bergelar Raja namun tidak berbuat seperti raja. Percayalah, orang-orang yang terlalu mendewakan ruang, ia akan kehilangan waktu. Namun, siapa yang berusaha meraih waktu, ia akan mendapat ruang sejati.

Bengkalis, 10/01/2018