Sukses Karena Bakat (?)


Sering kita mengatakan atau hanya sekedar mendengar kalimat, "aku kurang berbakat dalam menyanyi, menari, menulis, matematika, biologi, bahasa dlsb." Disadari atau tidak, pernyataan ini akhirnya membawa kita pada salah kaprah tentang definisi bakat itu sendiri. Akibatnya, bakat sering kita definisikan sebagai potensi yang dibawa sejak lahir. Seorang anak yang terlahir dari pasangan penyanyi akan memiliki bakat menyanyi, dari penulis akan berbakat menulis dan seterusnya. Seperti itulah deskripsi tentang bakat yang dipahami oleh sementara orang.

Dalam kaitannya dengan kesuksesan (menggapai cita-cita), tak jarang pula kita mendengar istilah orang-orang yang sukses karena bakatnya. Ah, dia kan memang berbakat untuk menulis, jadi wajar saja kalau sukses membuat buku. Nah bapak ibuku saja bukan penulis, bagaimana mungkin aku bisa sepertinya. Ya, tak jarang kita mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat-kalimat semisal itu. Mantra bakat telah menyihir pertumbuhan dan perkembangan generasi masa depan.

Jika bakat adalah potensi lahir yang turut menentukan kesuksesan, lalu bagaimana dengan mereka yang terlahir dari orang biasa namun kemudiam menjadi pribadi luar biasa? Bagaimana dengan mereka yang berprestasi sampai tingkat internasional sementara kedua orang tuanya hanya penduduk kampung yang tak sempat 'mencicipi' bangku sekolah? Bagaimana dengan mereka yang menjadi penulis hebat sementara orang tua yang melahirkannya tak pernah mengenal tulisan?

Miskonsepsi tentang definisi bakat pada gilirannya akan melahirkan generasi pemalas. Enggan mencoba sesuatu yang baru karena alasan tak berbakat. Kerancuan konsep tentang bakat juga menjadikan kita terbuai dengan zona nyaman. Melakukan rutinitas yang monoton dan tidak berkembang. Saat bakat kita terjemahkan sebagai potensi yang dibawa oleh seseorang sejak lahir, maka saat itu pula kita sedang mengingkari konsep kerja keras. Kata bakat berubah menjadi topeng pembenaran diri bagi setiap manusia.

Dalam istilah kerja keras, bakat adalah sesuatu yang dilatih dan diusahakan secara terus menerus (konsisten) hingga menjadi sebuah karakter yang bernilai. Tidak ada kesuksesan karena bakat yang dibawa sejak lahir dalam ensiklopedi kerja keras. Siapapun yang mau berusaha dan bekerja keras ia akan berhasil. Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh, maka akan berhasil).

Meski terlahir sebagai anak penyanyi, namun jika terus berlatih berenang, maka kita akan menjadi perenang yang hebat. Sebaliknya, terlahir sebagai putra mahkota pasangan cendikia, tanpa berusaha dan bekerja keras untuk belajar, maka mustahil bisa menjadi ahli seperti orang tuanya. Begitulah, tanpa kerja keras, cita-cita hanya akan menjadi imajinasi semu.

Kita tidak akan pernah tahu akan menjadi apa 10 atau 20 tahun yang akan datang. Yang bisa kita lakukan adalah terus berusaha untuk memperbaiki diri agar masa depan menjadi lebih baik. Bakat bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Bakat adalah sesuatu yang kita usahakan dalam kehidupan. Saat kita telah menentukan ingin menjadi apa di masa depan, maka terus berusaha dan bekerja keras adalah pilihan terbaik untuk mewujudkannya. Tak peduli terlahir dari siapa, kita semua memiliki kesempatan yang sama untuk sukses.

Semoga bermanfaat
Pekanbaru, 28/01/2018