Jawablah Pertanyaan Berikut dengan Baik dan Benar!!!

Jawablah Pertanyaan Berikut dengan Baik dan Benar!!!

Siapapun yang pernah merasakan bangku sekolah pasti kenal dengan judul tulisan ini. Kalimat ini sering muncul saat evaluasi pembelajaran. Hampir setiap guru selalu memberikan rambu-rambu dari berbagai pertanyaan dalam ujian. Peserta didik diminta menjawab seluruh soal yang ada dengan baik dan benar.

Pertanyannya, mengapa dua kata ini (baik dan benar) muncul sebagai muqaddimah dari soal-soal yang ada?

Penggunaan kata "baik dan benar" dalam muqaddimah soal-soal ujian sebenarnya bukan tanpa sebab. Pun demikian dengan peletakan keduanya. Tidak pernah ditulis terbalik, "benar dan baik" tapi selalu "baik dan benar".

Baik dan benar adalah dua istilah yang sangat berbeda. Tidak hanya makna, kedua kata ini juga memiliki ruang diskusi masing-masing. Kata "baik" sering digunakan dalam pembahasan tentang etika (akhlak), sementara kata "benar" sangat berhubungan dengan hukum. Lebih jauh lagi, istilah "baik" adalah kacamata bagi tindakan yang lahir dari pengetahuan yang didapatkan. Sedangkan "benar" adalah ukuran bagi pengetahuan itu sendiri. Mudahnya, baik adalah afektif dan benar adalah kognitif.

Hadirnya kata "baik" menuntut dunia pendidikan tidak hanya melahirkan generasi cerdas, tapi juga harus bermoral. Dalam ujian, perintah untuk mengerjakan soal dengan baik dan benar mewajibkan peserta didik agar berbuat lebih. Tidak hanya menjawab pertanyaan dengan benar menurut pengetahuan yang didapatkan, namun juga membatasi diri untuk tidak melihat jawaban teman di sebelahnya. Tidak pula memberi tahu teman lain tentang jawaban yang dipilih. Konsep inilah yang kemudian kita kenal dengan pendidikan karakter.

Terkait peletakan kata "baik" sebelum kata "benar" juga bukan tanpa alasan. Ini karena mem-"benar"-kan orang yang sudah baik ternyata lebih mudah dibanding mem-"baik"-kan orang yang terlanjur benar. Orang baik akan mudah diingatkan saat ia tersalah. Sementara orang benar biasanya selalu banyak alasan saat diberi tahu bahwa tindakannya kurang baik. Itulah mengapa banyak Cendekiawan menganjurkan agar kita lebih konsen terhadap pembentukan sikap daripada ilmu pengetahuan. Bukan berarti mengabaikan ranah kognitif, hanya saja afektif harus berada pada skala prioritas.

Para ulama sangat menganjurkan untuk mempelajari akhlak sebelum mempelajari satu disiplin ilmu. Imam Malik memberi wejangan kepada seorang pemuda Quraisy, beliau berpesan, "Ta'allamil Adaba Qabla an Tata'allamil 'Ilma" (pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari suatu ilmu). Imam Malik juga pernah dipesan hal serupa oleh Ibunya. Saat diminta agar belajar kepada Robi’ah Ibnu Abi ‘Abdirrahman (ahli fiqih di kota Madinah pada masanya), ibunya berkata, "Ta'allam min Adabihi Qabla 'Ilmihi" (pelajarilah adab darinya sebelum mengambil ilmunya). Imam Abu Hanifah juga begitu, beliau berkata, aku lebih menyukai kisah-kisah para ulama dan duduk bersama mereka daripada menguasai fiqih. Karena dalam kisah mereka diajarkan adab dan akhlak yang luhur.

Faktanya, di abad modern ini, kita lebih mudah menemukan orang benar daripada mencari orang baik. Banyak yang pintar tapi kurang bermoral. Lembaga pendidikan berlomba memproduksi pribadi pandai tapi luput dari etika. Hasilnya, kita menjadi hebat sekaligus juga berani berbuat jahat. Cerdas membuat konsep pembangunan tapi juga tak segan "memakan" pasir, semen, dan besi bangunan. Padahal, ilmu pengetahuan seharusnya mengantarkan umat manusia kepada pintu gerbang per-adab-an. Bukan sebaliknya.

Maka, bukan hanya seberapa tinggi capaianmu dalam ilmu pengetahuan. Tapi juga seberapa dalam ilmu pengetahuan mencapai sanubarimu. Semakin bertambah ilmu seharusnya semakin baik pula etikanya. Bukan hanya seberapa banyak hidupmu dalam beribadah. Tapi juga seberapa dalam ibadah menghidupkan jiwamu. Semakin intens beribadah seharusnya semakin bermanfaat bagi orang lain. Karena yang terbaik diantara semua adalah yang paling bermanfaat bagi sesama. Bukan mereka yang paling banyak ibadahnya.

Bengkalis, 17/02/2018