Memaknai Pendidikan

Memaknai Pendidikan

Minimal ada tiga unsur utama dalam pendidikan. 1) Guru, 2) Ilmu 3) Murid. Guru adalah pribadi yang menjembatani sampainya ilmu kepada murid. Tanpa guru, murid tidak akan pernah memperoleh ilmu. Begitu juga dengan guru. Tanpa murid, maka ilmu yang dimiliki tidak akan bermanfaat. Lebih parah lagi, guru tanpa ilmu hanya akan menyesatkan sang murid. Begitulah setiap unsur saling membutuhkan satu sama lain.

Interaksi yang terjadi antara murid dengan guru dalam memperoleh ilmu disebut belajar. Proses belajar inilah yang kemudian dikenal sebagai ujung tombak keberhasilan pendidikan. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Mahmud Yunus bahwa metode lebih penting daripada materi yang akan dipelajari. Menurut beliau, proses belajar harus mendapat perhatian serius dari seluruh elemen, baik guru maupun murid. Karenanya, para ilmuwan bersemangat menemukan konsep tepat guna agar proses belajar menjadi lebih efektif. Mulai dari strategi, metode, pendekatan, dan bahkan tempat berlangsungnya proses belajar juga dianalisa dengan serius.

Penelitian panjang tentang pentingnya memfasilitasi proses belajar ini akhirnya membuahkan hasil. Tidak sedikit negara-negara di dunia membangun infrastruktur agar proses belajar menjadi lebih efektif. Hasilnya, kita dapat menemukan berbagai bangunan sebagai sarana berlangsungnya proses belajar. Bangunan ini untuk selanjutnya kita kenal dengan sekolah/madrasah.

Harus diakui bahwa sekolah/madrasah memiliki pengaruh signifikan dalam dunia pendidikan. Proses belajar yang awalnya belum terarah berangsur menjadi terstruktur. Kurikulum mulai disusun secara hirarki sebagai kerangka tingkat pembelajaran. Setiap murid dikelompokkan dalam kelas tertentu agar proses belajar menjadi lebih efisien. Konsep sekolah/madrasah pada gilirannya membuktikan kepada dunia bahwa pendidikan adalah penting. Bahkan, masyarakat saat ini saling berlomba untuk memasukkan anaknya di sekolah/madrasah tertentu.

Meski demikian, bukan berarti konsep sekolah/madrasah tidak memiliki pengaruh negatif sama sekali. Hadirnya sekolah/madrasah menjadikan kita mulai berani memanipulasi konsep pendidikan itu sendiri. Di bawah payung lembaga pendidikan, kita mulai berani membuat dikotomi kaya dan miskin. Seragam sekolah misalnya, alih-alih sebagai wujud persamaan hak memperoleh pendidikan, kebijakan ini justru memangkas kesempatan berpendidikan bagi komunitas kurang mampu. Belum lagi uang gedung yang harus dibayar saat pendaftaran. Akibatnya, tidak sedikit masyarakat yang memilih tidak berpendidikan daripada harus menanggung malu. Ya, malu karena tidak sanggup membayar biaya pendidikan karena sistem sekolah/madrasah yang ada.

Konsep sekolah/madrasah yang digagas sebagai sarana mempermudah proses belajar justru menjadi paradoks dengan realita yang ada. Persis seperti yang disampaikan Obed Kresna (Presiden Mahasiswa UGM) dalam orasinya di Mata Najwa beberapa pekan yang lalu. Pendidikan (saat ini) tidak lagi menjadi hak, tetapi sudah menjadi komoditas. Siapa yang bisa mengakses pendidikan adalah mereka yang punya kemampuan financial. Kondisi ini pada gilirannya akan melahirkan generasi kompetitif yang lebih suka berlomba daripada bekerja sama.

Kita boleh putus sekolah tapi jangan sampai putus belajar. Karena pendidikan memang harus berlangsung sepanjang hayat (long life education). Inilah yang diajarkan Islam kepada para pemeluknya. Belajar dari buaian hingga liang lahat. Bahwa ada pelajaran di atas meja dan kursi sekolah/madrasah memanglah benar. Namun di setiap sudut kehidupan juga banyak pelajaran yang tidak kalah berharga. Sekolah (saat ini) hanya melahirkan identitas bagi para pelakunya. Sementara belajar akan membentuk personalitas yang kuat.

Belajar adalah sunnatullah, sesuatu yang harus dijalani setiap manusia selama hidupnya. Siapa yang mencoba meninggalkan akan binasa. Seperti ikan yang harus hidup di air. Ketika menolak, ia akan mati. Tidak peduli sekolah atau tidak. Kita harus tetap belajar dengan sungguh-sungguh sampai ajal menjemput.

Bengkalis, 21/02/2018