Mutiara Terpendam 2: Diskusi itu Menghidupkan Kehidupan

Mutiara Terpendam 2: Diskusi itu Menghidupkan Kehidupan

Situasi kota Makkah yang kurang kondusif akhirnya mengantarkan Nabi untuk berhijrah ke Madinah. Peristiwa hijrah ini untuk selanjutnya digunakan oleh umat Islam sebagai dasar penentuan tanggal dan tahun. Karenanya, hari ini kita mengenal istilah tahun hijriah.

Beberapa saat setelah tiba di Madinah, Nabi membangun masjidnya yang mulia dengan tangan beliau sendiri. Rasul melakukannya sebagai pembelajaran agar kita mencintai setiap pekerjaan yang dilakukan. Setelah proses pembangunan itu selesai, barulah untuk pertama kalinya adzan mulai disyariatkan.

Uniknya, ide tentang adzan ini tidak datang dari Nabi Muhammad saw. Rasul mengajak para sahabat untuk berdiskusi menentukan tanda masuknya waktu shalat. Ada banyak sekali pendapat dari kalangan sahabat dalam musyawarah itu. Sebagian berpendapat untuk meninggikan bendera sebagai pertanda waktu sholat telah tiba. Sebagian lain berpendapat untuk menyalakan api di tempat yang tinggi, meniup terompet seperti yang dilakukan orang yahudi, memukul lonceng seperti yang dilakukan orang nasrani, dan sebagian lagi berpendapat untuk membuat satu panggilan khusus.

Dari seluruh pendapat yang ada, hanya pendapat terakhir yang disetujui oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tak lama setelah itu, Abdullah bin Zaid datang menghadap kepada Nabi. Mengabarkan bahwa, baru saja ia bermimpi melihat seseorang yang menemui dan mengajarinya adzan. Nabi berkata, itu adalah penglihatan yang haq, sesuatu yang benar. Lalu Nabi memerintahkan Bilal bin Rabah untuk mengumandangkan adzan seperti yang dikabarkan oleh Abdullah bin Zaid.

Tepat pada tahun pertama hijriah inilah adzan mulai berkumandang di muka bumi. Suara indah Bilal bin Rabah memecah keheningan suasana kota Madinah kala itu. Ia benar-benar melantunkan rangkaian kalimat adzan dengan penuh penghayatan. Tak berhenti sampai disitu, untuk adzan shubuh Bilal menambahkan kalimat; assholatu khoirun minan naum (shalat lebih baik dari pada tidur) yang dibaca dua kali. Meskipun kalimat ini murni dari Bilal, namun Nabi Muhammad saw juga menyetujuinya. Begitulah, akhirnya adzan terus berkumandang di seluruh penjuru dunia hingga saat ini. Bahkan sampai hari akhir nanti.

Nabi Muhammad saw sebagai teladan terbaik bagi seluruh umat manusia telah mengajarkan sesuatu yang sangat berharga. Betapa tidak, untuk menentukan tanda masuknya waktu shalat, Rasul mengajak para sahabatnya untuk berdiskusi. Saya yakin, meskipun tanpa diskusi, sesungguhnya Nabi juga tahu tentang hal ini. Tapi Nabi tidak memutuskannya begitu saja. Nabi ingin mengajari kita tentang pentingnya bermusyawarah menuju kata mufakat.

Kontras dengan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Dewasa ini, diskusi menjadi sesuatu yang sangat langka dalam kehidupan kita. Masing-masing kita terlalu senang mementingkan ego sendiri. Bahkan dalam dunia pendidikan, mulai tingkat paling dasar hingga level perguruan tinggi, diskusi seakan berubah menjadi makhluk gaib. Jangankan untuk merasakan manfaatnya, melihat kegiatannya saja sudah mulai langka.

Diskusi yang sesungguhnya membawa banyak manfaat, sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan. Para pendidik yang seharusnya membimbing siswa berdiskusi agar menjadi pribadi kritis. Entah karena lupa atau memang sengaja untuk abai, malah menyulap kegiatan pembelajaran menjadi panggung monolog. Materi kehidupan dan ilmu pengetahuan disajikan dengan ceramah tanpa melibatkan peserta didik. Semuanya hanya satu arah. Kalau pun ada diskusi, mungkin hanya presentasi makalah dari peserta didik. Dan hebatnya, makalah yang disajikan bukan berasal dari diskusi alam fikir pemateri melainkan hanya copas dari internet. Luar biasa!!!

Kealpaan diskusi dari dunia pendidikan akhirnya membuat peserta didik menjadi malas untuk bertanya. Kalau pun bertanya, biasanya pertanyaan asbun (asal bunyi) yang sering mengemuka. Tanpa diskusi, peserta didik menjadi tidak terbiasa berpikir kritis. Menelan segala sesuatu mentah-mentah tanpa pernah menganalisa informasi yang ada. Anak didik kita juga akan menjadi pribadi yang enggan mengajukan pendapat sebagai solusi dari masalah yang sedang dihadapi bersama. Kondisi ini pada gilirannya akan melahirkan generasi apatis. Tidak pernah peduli dengan orang lain dan hanya mementingkan diri sendiri.

Terkadang saya sangat gemas menyaksikan semua yang terjadi. Tapi untungnya, masih ada pesantren yang tetap melestarikan budaya ini. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia sangat paham betul tentang metode diskusi yang pernah dicontohkan oleh Nabi. Di pesantren, diskusi seakan menjadi makanan sehari-hari. Para santri terbiasa berdiskusi membahas pelajaran-pelajaran yang telah dan akan dipelajari di madrasah. Tak hanya ilmu pengetahuan, tema-tema kehidupan juga turut menjadi topik yang selalu mewarnai musyawarah di dunia pesantren. Bahkan, diskusi-diskusi semacam ini menjadi agenda triwulan atau tahunan di beberapa lingkungan pesantren.

Diskusi mengajarkan banyak hal. Selalu menghargai dan menghormati orang lain meskipun berbeda. Karena perbedaan pendapat adalah sebuah keniscayaan dalam diskusi. Selalu berusaha untuk peduli dengan orang lain. Karena permasalahan yang muncul dalam diskusi adalah masalah bersama. Setiap anggota memiliki tanggung jawab yang sama untuk menemukan solusinya. Akhirnya, mereka yang peduli juga akan dipedulikan oleh orang lain.

Semoga bermanfaat
Tapung, 03/02/2018