Mutiara Terpendam 1: Nalar Kreatif dan Inovatif


Setelah mendapat perintah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Bilal bin Rabah akhirnya menjadi orang pertama di dunia yang mengumandangkan Adzan. Untuk shubuh, Bilal menambahkan kalimat; assholatu khoirun minan naum (sholat lebih baik dari pada tidur) yang dibaca dua kali. Meskipun kalimat ini murni dari Bilal, namun Nabi Muhammad saw tetap menyetujui hal itu. (Kisah ini akan kita diskusikan pada tulisan berikutnya, insya Allah).

Saat fajar bulan Ramadhan, Nabi memerintahkan untuk mengumandangkan adzan dua kali. Adzan pertama untuk mengingatkan umat Islam agar melaksanakan sahur. Sementara adzan yang kedua sebagai penanda masuknya waktu shubuh.

Mulai tahun pertama hijriah hingga masa khalifah Umar bin khattab, adzan jum'at hanya satu kali. Adzan dikumandangkan di depan pintu masjid saat imam telah duduk di mimbar. Namun pada masa kepemimpinan Usman bin Affan, beliau menambahkan adzan jum'at menjadi dua kali. Hal ini dilakukan karena jumlah manusia semakin banyak, dan tentu jumlah umat Islam telah bertambah semakin banyak pula.

Tidak hanya adzan, Sahabat Usman juga menyusun (baca: membukukan) al-Qur'an dalam bentuk mushaf di masa kepemimpinannya. Berkat ide cemerlang itu, akhirnya kita bisa membaca, mempelajari, dan menghafal al-Qur'an sampai hari ini. Padahal, saat Nabi Muhammad saw masih hidup, Rasul tidak pernah menyuruh para sahabatnya untuk membukukan al-Qur'an.

Keputusan khalifah Usman bin Affan untuk menambah adzan jum'at menjadi dua kali dan menyusun al-Qur'an dalam bentuk mushaf mengajarkan kepada kita tentang pentingnya konsep al-Muhafadzah 'alal qodimis sholih wal akhdu bil jadidil ashlah (merawat hal lama yang baik serta mengakomodir hal baru yang dianggap lebih baik) dalam kehidupan. Meski konsep ini baru diperkenalkan oleh al-Imam Muhammad bin Idris as-Syafi'i (Imam Syafi'i) beberapa ratus tahun kemudian, namun embrionya sudah ada sejak Nabi masih hidup. Meski Nabi tidak pernah menyebutkannya secara langsung, namun beliau mengajarkan kepada kita melalui perbuatannya.

Berdasarkan konsep tersebut, kita belajar untuk selalu kreatif dan inovatif dalam segala bidang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering nongkrong bareng teman-teman sambil menikmati secangkir kopi panas. Kegiatan nongkrong seperti ini memang sudah baik. Meningkatkan solidaritas persahabatan, memupuk dan menguatkan silaturahmi, menumbuhkan rasa kepedulian, dlsb. Sesuatu yang sudah baik seperti ini jangan dihilangkan, harus tetap dirawat. Namun jangan pula stagnan, berhenti sampai disitu saja. Harus ada unsur yang lebih baik yang kita akomodir di dalamnya. Misalnya diskusi-diskusi ilmiah sehingga kegiatan nongkrong menjadi lebih bermanfaat. Atau bisa juga, nongkrong di warung kopi sambil diskusi membahas target yang akan dicapai bersama rekan, misalnya target menulis buku, aksi sosial, membuka usaha kuliner, dlsb. Sehingga ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa diperoleh setelah nongkrong. Bukan sekedar ngopi sambil ngobrol ngalor ngidul tanpa makna.

Bagi seorang guru atau dosen, konsep yang diajarkan Imam Syafi'i diatas juga harus diterapkan. Dalam proses pembelajaran misalnya, seorang guru atau dosen dituntut untuk menanamkan nilai-nilai dan karakter mulia kepada peserta didiknya. Ini adalah sesuatu yang sangat baik, tidak boleh dihilangkan. Namun seiring perkembangan zaman, guru atau dosen juga harus kreatif berinovasi, menemukan metode dan strategi yang tepat guna sehingga nilai-nilai tadi lebih mudah tertanam dalam jiwa dan sanubari peserta didik. Pada akhirnya kegiatan belajar mengajar akan lebih menyenangkan, suasana menjadi lebih hidup, peserta didik akan bertambah semangat mengikuti proses pembelajaran.

Traveller sejati akan memasukkan sesuatu yang lebih bermanfaat dalam kegiatan jalan-jalannya. Merekam dengan video dan membagikannya kepada orang lain sebagai tambahan informasi tentang destinasi wisata. Pembaca yang kreatif juga demikian. Ia akan menuliskan komentar-komentar positif dari apa saja yang telah dibaca untuk selanjutnya mengambil kesimpulan. Dengan demikian, suatu saat nanti tulisannya juga akan dibaca oleh orang lain. Siapapun yang mau mengaplikasikan konsep ini dalam hidupnya, menjaga tradisi sekaligus membangun pondasi, cepat atau lambat akan menjumpai kesuksesannya.

Semoga bermanfaat
Tapung, 03/02/2018