Mutiara Terpendam 3: Menghormati Guru Adalah Kunci Kesuksesan


Adalah Sawad bin Ghaziyyah, sahabat yang keluar dari barisan saat perang Badar. Mengetahui hal ini, Nabi kemudian memukulnya dengan tongkat dan berkata, kembalilah ke dalam barisan wahai Sawad. Meski dalam rangka menegur dan mengingatkan, namun tongkat Nabi tepat mengenai perut Sawad. Siapa sangka, bukannya langsung kembali, Sawad justru berkata, engkau telah menyakiti diriku wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Bukankah engkau diutus untuk kebenaran dan keadilan. Maka, izinkanlah aku untuk membalas dirimu.

Nabi langsung membuka bajunya sembari berkata, balaslah aku wahai Sawad. Seketika itu pula Sawad bin Ghaziyyah langsung memeluk Nabi dan mencium tubuh mulia beliau. Kamudian Nabi berkata, apa yang membuatmu seperti ini? Dengan sangat hati-hati Sawad menjawab. Di akhir hayatku, aku ingin kulitku dapat bersentuhan dengan kulitmu yang mulia ya Rasul. Akhirnya Nabi mendoakan kebaikan untuk Sawad bin Ghaziyyah.

Merupakan kewajiban bagi pemimpin perang untuk menegur dan mengingatkan pasukannya saat satu diantara mereka melakukan kesalahan. Misalnya keluar dari barisan saat perang tengah berlangsung.

Di abad milenial sekarang ini, guru adalah panglima perang dalam melawan kebodohan. Sebagai panglima, ia wajib menegur dan mengingatkan pasukannya (peserta didik) saat satu diantara mereka tersalah. Misalnya mulai malas untuk belajar. Dalam perang, ini adalah kondisi dimana kita lengah terhadap serangan musuh. Hasilnya, jelas kita akan kalah. Mengikuti perkuliahan tanpa sebelumnya membaca materi yang akan dipelajari. Ini sama dengan nekat mengikuti peperangan tanpa persiapan terlebih dahulu. Jika dilakukan, kita akan gugur di tengah pertempuran. Suka tidak suka, pasti akan gagal studi. Untuk menghindari kemungkinan buruk seperti ini, seorang pendidik harus tekun menegur dan mengingatkan pasukannya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Meski memukul dalam rangka menegur, Nabi tetap sadar bahwa yang dilakukan telah menyakiti orang lain. Karenanya, saat Sawad bin Ghaziyyah meminta izin untuk membalas, dengan ikhlas Nabi memberikan tubuhnya. Seperti itu pula lah semestinya sosok seorang guru sebagai panglima perang dalam melawan kebodohan. Guru harus memiliki sikap terbuka terhadap kritik dan saran. Kita harus ikhlas menerima balasan apapun dari setiap perbuatan kita. Meski niat kita baik, namun karena satu dan lain hal, belum tentu akan dinilai baik pula menurut orang lain. Menegur dan mengingatkan untuk kebaikan semestinya dilakukan dengan cara yang baik pula. Amar ma'ruf seharusnya dilakukan dengan cara yang ma'ruf. Sementara nahi munkar jangan sampai dilakukan dengan cara yang munkar. Apalagi sampai menyebabkan kemunkaran yang lebih parah.

Sebagai murid, kita juga perlu belajar dari sikap Sawad kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ikhlas menerima teguran dan nasihat yang diberikan oleh guru. Kita harus yakin bahwa yang dilakukan guru adalah yang terbaik untuk kita. Ungkapan Sawad kepada Nabi yang sekilas seperti menuntut balas, sejatinya hanya siasat untuk dapat mengekspresikan cintanya kepada beliau. Terbukti ketika kesempatan itu benar-benar diberikan, ia tak membalas sedikitpun. Bahkan, ia justru memeluk dan mencium perut mulia Nabi Muhammad saw.

Bahwa hasil tak pernah mengkhianati usaha memanglah benar adanya. Namun akhlak dan penghormatan siswa kepada guru juga merupakan faktor penting dalam menentukan kesuksesan. Sehebat apapun pasukan perang, jika tidak patuh dengan panglimanya, niscaya akan gugur di medan pertempuran. Sebaliknya, meski tak bisa apa-apa. Namun selalu rajin belajar, patuh dan hormat kepada guru, mencintainya setulus hati. Maka tidak mustahil kita akan menjadi orang hebat di kemudian hari. Percayalah, setiap guru selalu mendoakan siswanya agar menjadi pribadi hebat yang bermanfaat bagi nusa, bangsa, dan agama. Persis seperti Nabi mendoakan kebaikan untuk Sawad bin Ghaziyyah meskipun ia telah melakukan kesalahan.

Semoga bermanfaat
Pekanbaru, 04/02/2018