Titik Hitam itu Berwarna Putih (1)

Berpikir terbalik mengajari kita kritis. Mencoba memandang sesuatu dari sudut lain. Sebagai contoh, kasus murid nakal. Kacamata Materialism; kasar anak badung. Nggak tahu malu apa. Ngabis-ngabisin duit orang tua aja. Kacamata Humanism; kasihan keluarganya. Bapak dan Ibunya pasti terpukul banget kalau tahu dia seperti ini. Kacamata Cinta; dia memang nakal. Tapi aku yakin, masih ada kebaikan dalam hatinya.
Setelah lulus dari Madasah Aliyah (setingkat SMA), aku sempat meminta kepada Bapak untuk tidak melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Tak perlu kuliah segala lah, Pak. Paman saja yang lulusan IPB kerjanya cuma nyangkul di sawah. Padahal kan beliau lulusan terbaik waktu itu.

Aku berpikir Bapak akan setuju dengan pendapatku. Bahwa kuliah itu memang tidak penting. Cuma buang-buang waktu dan uang saja. Tapi tidak begitu menurut Bapak. Setengah marah Bapak menjawab. Kalau pamanmu yang lulusan terbaik IPB saja kerjanya cuma nyangkul, terus kamu mau jadi apa kalau cuma lulus aliyah. Pokoknya kamu harus kuliah. Tak peduli besok jadi apa, yang penting wajib kuliah, titik.

Sebelumnya, aku termasuk salah satu siswa yang mendapat tawaran beasiswa studi S1 ke universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Namun, Ibu memintaku untuk tidak mengambil beasiswa itu. Kata Ibu, tidak usah kuliah jauh-jauh. Sejak lulus SD kamu sudah pergi jauh dari Ibu, nak. Masuk pesantren di Jawa. Ibu sering kangen tapi tak bisa menjengukmu. Tidak punya uang untuk beli tiket. Kalau kamu kuliah di luar negeri, terus bagaimana jika Ibu kangen sama kamu. Kuliah di sini saja ya, nak, di Pekanbaru. Biar gampang kalau Ibu pengen ketemu.

Saat itu aku benar-benar galau. Membantah Ibu, jelas aku tak berani. Kuliah di Pekanbaru berarti menyia-nyiakan peluang kuliah di Mesir. Harapan dan cita-cita yang selalu ku impikan sejak lulus SD.

Dalam galau itu, ku beranikan diri berbicara kepada Bapak agar tidak usah kuliah sekalian. Biar ku kubur episode kuliah yang belum diputar itu bersama tawaran beasiswa ke Mesir yang memang harus aku lepaskan.

Bukan asal nekat. Hampir seminggu aku mencari alasan agar Bapak mengizinkanku tidak kuliah. Namun alasanku mentah begitu saja. Tak ku sangka, jawaban Bapak benar-benar di luar dugaan. Aku yang lulusan Madrasah Aliyah (MA) kalah telak dengan Bapak yang hanya lulusan SD.

Awalnya aku memang sangat ingin kuliah. Tapi di Mesir, bukan di Pekanbaru. Karena Ibu tidak merestui, makanya aku merajuk. Namun karena Bapak juga marah. Akhirnya aku harus terpaksa mendaftar kuliah. Ya, benar-benar terpaksa.

Kamu tahu kan, bagaimana rasanya melakukan sesuatu karena terpaksa. Benar. Rasanya sangat berat. Kamu tak akan kuat. Biar aku saja. Maka, jalanilah kuliahmu dengan ikhlas. Sementara aku, biar ku jalani kuliahku seperti ini.

Hampir setiap malam aku begadang. Karenanya, tak jarang aku tidur di dalam kelas saat dosen menjelaskan. Bagiku, berangkat ke kampus hanyalah kegiatan untuk berpindah tempat tidur. Atau sekedar bertemu teman-teman untuk mengobati suntuk dan bosan karena sendirian di kos. Ku lewati masa-masa perkuliahan dengan tanpa semangat sama sekali. Aku menjadi tak peduli dengan materi-materi kuliah.

Pernah suatu ketika aku berangkat ke kampus memakai sarung. Dosen marah besar dan menyuruhku meninggalkan kelas. Aku melawan karena menurutku kuliah boleh memakai apa saja asal sopan. Toh aku tak pernah dilibatkan dalam rapat tentang aturan berpakaian saat kuliah. Kenapa pula aku harus mematuhinya.

Meski begitu, semua nilai mata kuliahku bisa dibilang sempurna. Dari 10 mata kuliah dengan bobot keseluruhan 20 sks yang dipaketkan di semester awal semuanya mendapat nilai A. Hal ini terus berlanjut hingga semester 2. Walau ada satu dua mata kuliah yang mendapat B, tapi nilai A masih mendominasi.

Aku semakin menjadi-jadi saat masuk semester 3. Pikirku, seluruh materi yang diajarkan di kampus telah aku pelajari di pesantren. Jadi aku tidak perlu repot-repot ke kampus lagi. Aku hanya perlu berangkat ketika UTS dan UAS. Dan ini benar-benar ku jalani saat semester 3. Aku menjadi semakin tak peduli dengan seluruh dosen. Mengabaikan seluruh nasihatnya dan selalu bolos kuliah.

Ujian tengah dan akhir semester ku jalani tanpa kesulitan sedikit pun. Bahkan seluruh pertanyaan ku selesaikan dalam waktu kurang dari 45 menit setelah soal dibagikan. Aku sangat yakin seluruh jawabanku sudah benar. Namun, aku merasa ada yang aneh saat hari ke-4 mengikuti Ujian Akhir Semester 3. Tak ada satu dosen pun yang menegur atau menasihati aku lagi. Seakan semua orang tak peduli lagi dengan aku. Tidak dosen, tidak juga teman-teman. Dosen yang biasanya marah menyaksikan kelakuanku, saat ini diam saja. Teman-teman yang selalu meminta jawaban dariku saat ujian, menjadi seperti tak butuh sama sekali.

Adalah pak Ahmad, dosen senior yang siang itu tiba-tiba menyapaku. Nabil.... kesini, nak. Setengah berteriak beliau memanggil namaku. Entah kenapa aku bisa peduli dengan panggilan itu. Kata teman-teman, beliau adalah dosen yang sangat tulus membimbing mahasiswa. Bahkan aku sering mendengar dosen-dosen lain menyebut namanya. Mereka selalu mengatakan bahwa pak Ahmad itu luar biasa. Selalu mengajar dengan hati.

Dengan berat hati ku langkahkan kaki menuju ruang HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan). Tepat di depan pintu, pak Ahmad sudah menunggu. Aku masih sama seperti sebelum-sebelumnya. Tak pernah peduli dengan siapa pun. Termasuk dengan pak Ahmad. Namun beliau tidak begitu. Pak Ahmad mengucapkan salam. Ia raih tanganku dan menanyakan kabar. Aku tidak menjawab. Hanya mengangguk sekedar mengangguk. Kembali ia raih tanganku. Kali ini ditariknya untuk masuk ke dalam.

Nak, bapak tahu kamu itu orang pintar. Buktinya, meski tak pernah belajar, kamu tetap menguasai seluruh materi kuliah. Nilaimu bagus-bagus. Bahkan, kemarin di semester 2 nilaimu juga masih banyak yang A kan. Pak Ahmad memancingku untuk berbicara. Aku tetap membisu sampai akhirnya beliau berpesan.

Nabil, anakku. Dengarkan bapak ya, nak. Dipanggil seperti itu, aku jadi teringat Bapak di rumah. Terbayang wajah Ibu yang selalu merindukanku saat masih di pesantren. Harapan Ibu agar aku kuliah di Pekanbaru supaya mudah dijenguk. Meski nyatanya Bapak dan Ibu belum pernah menjengukku sampai hari ini. Seketika aku merasakan Ibu juga turut hadir di ruang 4 x 3 meter itu. Ibu membelai lembut rambutku yang acak-acakkan. Sambil berbisik Ibu berpesan.

"Nak, ilmu itu cahaya yang datangnya dari Allah. Kamu bisa saja tidak menghormati dosen dan tetap mendapat nilai baik. Meskipun sebenarnya itu dilarang. Tapi jangan pernah sekali-kali kamu tidak menghormati ilmu. Apa yang telah kamu pelajari dan pahami tidak akan berkah dan bermanfaat. Justru akan menyesatkanmu."

Tak terasa air mataku meleleh. Ku raih tangan Ibu yang sedari tadi membelai kepalaku. Ku kecup tangan itu dan dengan pilu aku menjawab. Maafkan anakmu, Bu. Aku janji akan berubah. Aku janji tidak akan berbuat seperti ini lagi. Maafkanlah anakmu yang sangat bodoh ini, Bu.

"Bangkitlah, nak. Kamu adalah orang yang baik. Suatu saat nanti, kamu pasti menjadi orang hebat." Sambil mengusap kepalaku dengan tangan kiri, pak Ahmad menarik tangan kanannya yang masih ku kecup.

Tapung, 06/02/2018