Topeng Umat Beragama


Islam adalah agama paripurna. Mengajari para pemeluknya untuk selalu melakukan kebaikan dan meninggalkan kemunkaran. Ini adalah inti ajaran agama Islam sejak zaman dahulu, sekarang, esok, lusa dan sampai kapanpun.

Seperti agama-agama langit lainnya, Islam juga memiliki kitab suci sebagai pedoman hidup menuju kebahagiaan dunia akhirat. Hebatnya, selain memuat pedoman hidup, kitab ini juga menjelaskan pokok-pokok ilmu pengetahuan. Tak sedikit temuan ilmiah yang dihasilkan oleh para ilmuan. Namun, al-Qur'an sudah mengungkapkan semua itu beberapa abad sebelumnya. Karenanya, tak sedikit dari para ilmuan itu yang akhirnya mengikrarkan keislamannya.

Untuk mengajarkan Islam, Tuhan juga mengutus seorang Rasul. Dia adalah Muhammad ibn Abdullah ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim ibn Abdi Manaf ibn Qushay ibn Kilab. Penghulu para Nabi yang selalu mengajak umat manusia kepada ke-tauhid-an. Tak pernah lelah mengajarkan cinta kasih. Akhlaknya adalah al-Qur'an. Seluruh ucapannya adalah kebenaran. Beliau, Rasululullah shallallahu 'alaihi wa sallam tak pernah memusuhi siapapun. Bahkan kepada Abu Lahab, paman sekaligus besan beliau sendiri yang sangat memusuhinya.

Islam selalu mengajarkan perdamaian. Bahkan, tak ada satu agama pun di muka bumi yang mengajarkan permusuhan. Itulah mengapa sampai ada istilah, semua agama itu sama. Ya, sama-sama mengajarkan kasih sayang. Jika seluruh manusia di dunia mengikuti ajaran agamanya dengan baik dan benar. Maka tidak akan ada kejahatan di muka bumi. Tidak akan ada yang saling menyalahkan. Tidak akan ada kasus korupsi. Tidak akan ada penindasan terhadap yang lemah. Tidak akan ada yang berani bohong. Tidak akan ada anak yang membantah orang tuanya. Tidak akan ada wanita-wanita hamil diluar nikah. Tidak akan ada bayi-bayi malang yang harus menjemput ajalnya di tong sampah. Bahkan, untuk berburuk sangka kepada orang lain saja tidak akan ada yang sanggup. Kita pasti akan takut kepada Tuhan yang maha melihat.

Sekarang, setelah belasan abad jasad Nabi meninggalkan kita. Dunia seakan berubah menjadi kacau. Hampir sulit mencari kedamaian, kebenaran, dan terutama cinta. Tak peduli beragama atau tidak, kita semua mulai berani melakukan kejahatan. Menyebarkan berita-berita palsu. Selalu memproduksi ujaran kebencian. Bahkan, tak jarang pula kita mulai berani menikam saudara sendiri. Asal bisa menang, kita akan melakukan apa saja. Tak peduli orang lain senang atau tidak.

Umat beragama juga semakin parah. Banyak yang menganggap agama sebagai tujuan. Banyak yang lupa, bahwa sesungguhnya tujuan utama kita adalah Tuhan yang Esa, Allah Azza wa Jalla. Saat menganggap agama sebagai tujuan, kita akan mudah menyalahkan orang lain yang berbeda agama dengan kita. Lebih parah dari itu, bahkan kita mulai berani menuduh saudara seagama sebagai kafir hanya karena berbeda pendapat. Berani memberi stempel surga neraka kepada saudara sendiri yang semestinya merupakan hak preogatif Allah.

Masih sangat segar di ingatan, bagaimana ust. R. Prawoto di Cigondewah Kidul, Bandung yang menjadi korban penganiayaan "orang gila" dan meninggal dunia pada 1 Februari 2018. Kita juga belum lupa bagaimana "orang gila" menganiaya KH. Umar Bishri di Cicalengka Kabupaten Bandung beberapa hari sebelumnya.

Kedua peristiwa ini menjadi saksi bahwa kita mulai berani mengeksploitasi agama. Islam yang sejak awal selalu mengajarkan rahmatan lil 'alamin (kasih sayang bagi seluruh alam) telah dicoreng oleh para penganutnya sendiri. Meski demikian, Islam tidak akan pernah berubah. Tetap menjadi agama paripurna. Tempat mencari solusi segala persoalan kehidupan.

Fenomena demi fenomena yang terpentas di depan mata kita adalah episode kelam umat beragama yang melupakan agamanya. Mereka yang berbuat tidak benar atas nama agama hanyalah oknum bertopeng agama. Meski dibungkus sebaik apapun, kejahatan tetaplah kejahatan. Karenanya, kembali kepada agama adalah solusi terbaik untuk mengakhiri sirkus "orang gila" yang ada. Mempelajari kembali Islam secara sempurna dengan pondasi cinta kasih bagi seluruh alam.

Kita juga perlu waspada, karena sekarang ini banyak "orang gila" berkeliaran dimana-mana. Entah benar-benar gila, atau sekedar gila dunia.

Wallahulmusta'an 🙏

Tapung, 08/02/2018