Maulid dan Hari Guru Nasional 2018

Maulid dan Hari Guru Nasional 2018

Sampai hari ini, peringatan dan perayaan maulidur Rasul al-Akram shallallahu `alaihi wasallam masih saja mewarnai seluruh penjuru bumi. Gema shalawat salam dan estafet kalam hikmah dari bibir suci para kekasih menembus pintu-pintu langit. Semua bermunajat dalam alunan syair sirah Nabawiyah yang terlantun syahdu. Pada saat yang sama, pagi tadi hingga saat ini, setiap murid mengekspresikan kerinduan dan kecintaannya kepada sang guru dalam momentum Hari Guru Nasional.

Hari Guru Nasional tahun ini yang diperingati dan dirayakan dalam suasana Maulid menambah kesan istimewa. Bagaimana tidak, bukan hanya ucapan selamat dari murid dan kolega, setiap guru pada hari ini juga memiliki peluang mendapat berkah berlipat dengan mempelajari profil guru ideal sepanjang masa. Ya, beliau adalah Sayyiduna Muhammad shallallahu `alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam sebagai sebenar-benar guru yang pernah ada di dunia mengajarkan kepada kita. Dalam haditsnya yang sama-sama kita hafal, beliau menegaskan bahwa misi kenabian Muhammad adalah untuk menyempurnakan makarimal akhlak (akhlak yang mulia). Makarimal akhlak inilah yang sejatinya menjadi orientasi seluruh insan bergelar guru.

Memutuskan untuk menjadi seorang guru berarti memutuskan untuk mau belajar tulus, ikhlas dan sabar. Sebab, tugas utama seorang guru bukan membentuk peserta didik menjadi pribadi yang memiliki ilmu pengetahuan luas. Sama sekali bukan. Keberhasilan sang guru diukur dari akhlak dan nilai-nilai luhur yang tertanam dalam hati dan sanubari muridnya. Dan ini bukan perkara mudah. Butuh ketulusan, keikhlasan, dan kesabaran serta ketekunan yang luar biasa. Itulah mengapa setiap guru harus mampu menjadi pribadi dengan jiwa yang tulus dan ikhlas berbalut kesabaran paripurna.

Seperti lazim diketahui bahwa iblis memiliki beragam panggilan di setiap shaf langit. Mulai dari langit pertama sampai langit ketujuh tak ada satupun namanya yang berkonotasi buruk. Secara berurutan dari langit pertama hingga terakhir iblis dikenal sebagai al-'Abid, az-Zahid, al-'Arif, al-Wali, at-Taqi, al-Kazin, dan Azazil. Namun di Lauh Mahfudz, namanya adalah iblis. Itulah mengapa syeikh Abdul Qadir al-Jailani sampai berkata, aku lebih menghargai orang yang beradab daripada orang yang berilmu. Sebab jika ilmu menjadi standar, maka iblis jauh lebih unggul daripada manusia.

Menjadi guru memang tidak semudah yang dibayangkan banyak orang. Ada tanggung jawab besar terpikul di pundaknya. Karenanya, meneladani sifat-sifat Nabi adalah kunci emas untuk dapat istiqamah dalam mengemban amanah tersebut.

Contoh nyata yang berkait erat dengan tema guru sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam adalah bahwa Nabi selalu melakukan segala sesuatu sebelum mengajarkannya kepada para sahabat. Lisanul hal afshahu min lisanil maqal, begitulah masyarakat Arab mengabadikannya dalam pepatah. Nabi juga selalu mendoakan kebaikan untuk semua muridnya. Seburuk dan senakal apapun perangainya, Nabi tetap melangitkan harapan-harapan baik untuk mereka. Kalaupun bukan mereka yang mendapat hidayah, semoga kelak akan ada anak cucu mereka yang menjadi orang-orang baik.


Selamat Hari Guru Nasional,
Bengkalis, 25/11/2018