4 Golongan Manusia

4 Golongan Manusia

al-Farahidi membagi manusia menjadi 4 golongan. 1) orang yang tahu dan dia tahu jika dia tahu. 2) orang yang tahu dan dia tidak tahu jika dia tahu. 3) orang yang tidak tahu dan dia tahu jika dia tidak tahu. 4) orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu jika dia tidak tahu.

Golongan pertama adalah orang-orang alim maka ikutilah mereka. Mereka sadar bahwa segala sesuatu akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah. Karenanya, manusia dalam kelompok ini tidak akan berbuat dan bertindak sesuka hati, ada ilmu yang akan menuntunnya. Mereka tahu bahwa menggunjing adalah haram, karenanya mereka meninggalkan sikap tercela itu. Mereka paham bahwa menyakiti manusia lain adalah perbuatan keji, karenanya mereka selalu bersikap welas asih. Kelompok ini juga sadar bahwa ilmu yang dimilikinya juga akan dihisab. Karenanya, mereka akan berusaha keras untuk mengamalkan apa saja yang telah dipahami untuk kemudian mengajarkan kepada orang lain agar manfaat ilmu tidak hanya berhenti pada diri sendiri.

Golongan kedua adalah kelompok orang-orang alim namun tidak sadar dengan keilmuannya. Bukan tak pandai, orang-orang dalam kelompok ini biasanya kurang percaya diri saat berada di depan publik. Menurut al-Farahidi, mereka termasuk orang yang lalai maka bangunkanlah mereka dari tidur dalam kelalaian itu. Tegur dan ingatkan mereka bahwa ilmu yang dipahami (meski satu ayat) harus diamalkan dan diajarkan kepada masyarakat. Jika tidak, maka kehancuran akan segera berlabuh. Kondisi ini pada akhirnya akan melahirkan pribadi-pribadi pecundang. Apa guna menguasai samudera ilmu jika perahu amal tak pernah berlayar di atasnya. 

Manusia dalam kelompok ketiga adalah para pencari ilmu yang sejati, maka bimbing dan didiklah mereka kepada pemahaman dan jalan yang benar. Mereka adalah orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan namun sadar dengan ke-tidak tahuan-nya. Orang-orang ini selalu ingin mempelajari banyak hal sebagai sarana memperbaiki hidup dan kehidupan. Cintanya terhadap ilmu pengetahuan seakan tak pernah kering. Semangatnya mengarungi khazanah keilmuan selalu membara dan berkobar. Tak peduli lelah atau sakit, ada atau tak ada biaya. Semua tak pernah menghambat keinginannya untuk terus belajar. Long live education, belajar sepanjang hayat, itulah motto hidupnya.

Yang terakhir adalah orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan namun tidak sadar akan kebodohannya. Sifat sombong melekat kuat dalam diri dan menjadi warna dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana tidak, orang-orang dalam kelompok ini sejatinya bodoh namun merasa alim sehingga tak pernah mau belajar. Lebih parah lagi, mereka justru berani berfatwa tanpa dasar keilmuan sama sekali. Al-Farahidi secara tegas menyatakan bahwa siapa pun yang berada dalam kelompok terakhir ini adalah orang-orang jahil yang harus dijauhi. Sadar tidak sadar, orang-orang jenis ini mulai banyak bertebaran di muka bumi. Bahkan mungkin kita termasuk salah satunya.

Imam Khalil bin Ahmad yang lebih dikenal dengan nama al-Farahidi adalah satu diantara linguis arab paling berpengaruh yang kemudian menjadi madzhab Nahwu di Bashrah. Murid Ibnu Abi Ishaq ini juga merupakan pencipta Ilmu `Arudh, sebuah disiplin ilmu pengetahuan tentang persajakan dalam bahasa arab. Lebih dari itu, al-Farahidi dikenal sebagai perumus banyak hal yang belum pernah ada sebelumnya seperti tasydid, hamzah, dan isymam. Berbagai karya monumental lahir dari tangan dinginnya. Salah satu kitabnya yang masyhur dan membawa pengaruh besar adalah Mu`jam Al-`Ain (kamus pertama dalam bahasa Arab yang disusun berdasar urutan makharijul huruf). Bahkan, Imam Sibawaih yang merupakan Grand Master gramatika Arab (Bashrah) pada masa itu adalah muridnya. Tak kalah dengan gurunya, dari tangan Imam Sibawaih juga lahir karya monumental yang menjadi rujukan utama bagi perkembangan ilmu nahwu hingga saat ini.

Bengkalis, 08/12/2018