Ilmu Bayan; Simile, Metafor, dan Metonimia dalam Bahasa Arab

Ilmu Bayan; Simile, Metafor, dan Metonimia dalam Bahasa Arab

Pengertian

Balaghah secara bertahap mengajarkan kita bagaimana mengekspresikan ide secara teratur dan efektif, mengolah kata sehingga menjadi kalimat-kalimat bernas nan indah dengan arti yang jelas serta sesuai situasi dan kondisi yang ada. Sementara itu, Ilmu Bayan yang merupakan cabang dari Balaghah secara spesifik melatih kita agar dapat mengungkapkan satu ide dengan berbagai bentuk ungkapan. Saat ingin mengungkapkan sesuatu, kita dapat memilih redaksi dan gaya bahasa yang tepat agar apa yang kita sampaikan dapat dipahami dengan baik oleh orang lain. Meski hanya satu ide, namun kita dapat mengekspresikannya dengan beragam gaya bahasa. Bahkan, pemilihan gaya bahasa yang baik dan indah dapat membekas dan memberi pengaruh positif bagi orang yang mendengar. Itulah mengapa setiap pelajar bahasa Arab harus memahami ilmu ini dengan sangat baik.

Kata Bayan dalam semua bentuk isytiqaq (perubahan katanya) menunjukkan arti azh-zhuhur (الظهور), al-kasyf (الكشف) dan al-idhah (الإيضاح) (menjelaskan atau menerangkan). Berikut adalah beberapa syawahid dari al-Qur’an dan Hadis yang menjelaskan hal tersebut.

QS. al-Baqarah: 187
... كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“… begitulah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa.” 

QS. an-Nahl: 44
... وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“… dan telah Kami turunkan al-Qur’an kepadamu (Muhammad) agar kamu menjelaskan kepada manusia tentang apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka memikirkan.”

HR. Bukhari
    إِنَّ مِنَ الْـبَيَانِ لَسِحْرًا

    “Sesungguhnya sebagian dari al-Bayan itu membuat orang terkesima”

    Dalam konteks ini Bayan berarti menyampaikan sesuatu menggunakan struktur bahasa yang paling indah.

    HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Hakim
      البِذَاءُ وَالبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنَ النِّفَاقِ

      “Berkata kotor dan al-Bayan adalah cabang dari sifat kemunafikan.”

      Dalam konteks ini al-Bayan berarti bertindak berlebihan atau over acting dalam berbicara. Biasanya muncul sebabkan perasaan ‘ujub (agar dikagumi oleh orang lain).

      Sedangkan secara terminologis, Ahmad al-Hasyimiy menyatakan bahwa ilmu bayan merupakan ilmu yang mempelajari tentang cara mengekpresikan satu ide (gagasan) dengan berbagai ungkapan yang berbeda.

      أصول و قواعد يعرف بها إيراد المعنى الواحد بطرق يختلف بعضها عن بعض  في وضوح الدلالة العقلية على نفس ذلك المعنى (أحمد الهاشمي)

      Dalam sumber lain dikatakan Imam Akhdari berpendapat bahwa Ilmu Bayan adalah ilmu yang mempelajari tentang cara mengekpresikan satu ide (gagasan) dengan ungkapan yang sesuai situasi dan kondisi melalui gaya bahasa yang beragam.

      علم يعرف به إيراد المعنى الواحد المدلول عليه بكلام مطابق لمقتضى الحال بطرق مختلفة فى إضاح الدلالة عليه (الامام الأخضري)

      Pokok Bahasan

      Ada beberapa topik yang dibahas dalam ilmu al-bayan. Masing-masing memiliki kekhasan kajian antara yang satu dengan lainnya. Untuk lebih jelasnya berikut ini dipaparkan topik-topik tadi berdasarkan contoh.

      Saat ingin mengekspresikan kata “cantik dan berbudi baik” kita dapat mengungkapkannya dengan beragam pola gaya bahasa yang masing-masing memiliki tingkat kejelasan makna yang berbeda santara satu dengan yang lain. Untuk mengatakan seseorang itu cantik dan baik akhlaknya, kita bisa mengatakan (1) engkau laksana mawar yang memancarkan keanggunan, (2) aku melihat mawar berjalan santai menuju kampus, dan bisa juga (3) banyak sekali orang yang kagum padamu.

      Pola kalimat pertama pertama pada contoh diatas menggunakan uslub tasybih (gaya bahasa simile); yang kedua menggunakan uslub majaz (gaya bahasa metafora); dan ketiga menggunakan uslub kinayah (gaya bahasa metonimia). Diantara yang paling jelas penunjukan maknanya pada ketiga contoh di atas adalah pola kalimat yang menggunakan tasybih, lalu diikuti oleh majaz dan terakhir adalah kinayah.

      Pada kalimat pertama, pembicara menyerupakan seseorang dengan bunga mawar dari sisi kecantikan dan kebaikan akhlaknya. Pada kalimat kedua, pembicara melihat bunga mawar yang merupakan metafor dari orang yang berparas cantik dan berakhlak mulia. Sedangkan pada kalimat kalimat ketiga, pembicara menyatakan seseorang yang memiliki banyak fans yang merupakan kinayah dari cantik dan berakhlak mulia.

      Berdasarkan contoh tersebut dapat kita ketahui bahwa pokok bahasan ilmu Bayan ada 3, yaitu Tasybih (Simile), Majas (Metafor), dan Kinayah (metonimia). 

      Hal ini seperti yang dijelaskan dalam nadham al-Jauharul Maknun sebagai berikut :

      فَنُّ الْبَيَانِ عِلْمُ مَابِهِ عُرِفْ      ¤      تَأْدِيَةُ المَعْنَى بِطُرْقٍ مُخْتَلِفْ
      وُضُوْحُهَا وَاحْصُرْهُ فِى ثَلاثَةٍ      ¤      تَشْبِيْهٍ اَوْ مَجَازِ اَو كِنَايَةٍ

      Jadi uslub atau gaya bahasa kiasan yang dibahas dalam ilmu bayan pada dasarnya dibentuk berdasarkan perbandingan dengan analogi, yakni membandingkan suatu benda atau suatu keadaan dengan benda atau keadaan lain, karena keduanya memiliki hubungan kesamaan atau hubungan lain seperti hubungan sebab akibat, hubungan tempat dan lain sebagainya. 

      Manfaat

      Berdasarkan keterangan tersebut kita tahu bahwa Ilmu Bayan esensinya mengajarkan kita untuk selalu berpikir sebelum berucap. Memikirkan kalimat-kalimat terbaik sesuai situasi dan kondisi sebelum mengucapkan apa yang kita pikirkan agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Dengan ilmu ini pula kita dapat berlatih memahami Al-Qur’an, Hadits, syair-syair Arab dan ungkapan-ungkapan orang Arab pada umumnya. Setelahnya, kita pula dapat berlatih menyusun ungkapan yang mengesankan agar sesuatu yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik oleh orang lain serta tidak membosankan.