Biografi Pengarang Kitab al-‘Imrithy

Biografi Pengarang Kitab al-‘Imrithy

Kitab Mandzumah al-‘Imrithy atau yang lebih dikenal sebagai Kitab ‘Imrithy merupakan kitab yang mempelajari Ilmu Nahwu atau gramatika bahasa Arab yang disusun dalam bentuk nadzam (sajak). Gaya bahasa sajak yang dipilih oleh pengarang menjadikan kitab ini semakin mudah dihafal, dipelajari, dan dipahami oleh para pemula yang ingin menguasai tata bahasa Arab dengan baik dan benar. Karenanya, tak heran jika akhirnya nadzam ‘Imrithy ini menjadi sangat populer di seluruh penjuru dunia bahkan sampai ke Indonesia.

Kitab al-‘Imrithy dikarang oleh Syaikh Syarafuddin Yahya bin Nuruddin bin Musa bin Ramadhan bin Umairah al-‘Imrithy. Dalam beberapa kitab seperti Nihayatu at-Tadrib, Tuhfatu al-Habib, dan Syarhu at-Taisir dijelaskan bahwa kata al-‘Imrithy merupakan penisbatan pada daerah asal beliau, yaitu desa ‘Amrith. Sebuah daerah yang dalam beberapa redaksi dibaca ‘Imrith [lihat: Tajul ‘Arus min Jawahir al-Qamus li al-Imam az-Zabidi] merupakan suatu desa di wilayah ibukota Mesir-Kairo yang berada di bagian timur negeri Bilbis dan dekat dengan Sunaikah (tempat kelahiran Syaikhul Islam Zakariya al-Anshari).

Syaikh Yahya al-‘Imrithy merupakan seorang guru besar yang sangat alim lagi shaleh. Beliau juga dijuluki sebagai kunci keutamaan yang penuh kesuksesan serta memiliki pemahaman mendalam terhadap berbagai disiplin ilmu. Selain guru, beliau merupakan seorang maestro penyusun nadzam. Tak sedikit karya ulama yang awalnya berbentuk natsar (prosa) kemudian beliau susun ulang menggunakan gaya bahasa nadzam (sajak). Bukan sembarang nadzam, kitab-kitab mandzumat karya beliau memiliki keistimewaan gaya bahasa yang sangat indah dengan diksi yang mudah diucapkan dan kosakata yang padat dan memiliki makna yang jelas serta mendalam.

Selain guru yang alim dan shaleh bagi para muridnya, Syaikh Yahya al-‘Imrithy juga merupakan pribadi yang sangat rendah hati. Selalu merasa lemah dan sering mengakui segala kekurangan. Sikap inilah yang pada akhirnya menjadikan beliau sangat dekat dengan murid dan sahabat-sahabatnya. Bahkan tak jarang motivasi mengarang nadzam untuk kitab-kitab tertentu adalah karena ingin memenuhi permintaan sahabat-sahabatnya. Meski disisi lain beliau juga selalu ingin berkarya untuk menyebarkan kebaikan dan membantu sesama serta sebagai tanggung jawab atas ilmu yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Hal ini dapat kita pahami secara jelas dari beberapa muqaddimah dalam kitab beliau seperti:

وَقَدْ سُئِلْتُ مُدَّةً فِي نَظْمِهِ ۞ مُسَهِّلاً لِـحِفْظِهِ وَفَهْمِهِ
(نظم الورقات)


سُئِلْتُ فِيْهِ مِنْ صَدِيْقٍ صَادِقِ ۞ يَفْهَمُ قَوْلِى لاِقْتِقَادٍ وَاثِقِ
(نظم العمريطي)

Meski masyhur sebagai pakar ilmu Nahwu, Syaikh Yahya al-‘Imrithy juga dikenal alim dalam berbagai disiplin ilmu lain seperti Fiqh dan Ushul Fiqh. Hal ini terbukti dari banyaknya kitab beliau dalam lintas disiplin ilmu tersebut. Dan yang luar biasa adalah, mayoritas karya beliau selalu disusun dalam bentuk nadzam. Gaya bahasa nadzam (sajak) yang puitis sengaja beliau pilih agar ilmu-ilmu esensial yang disajikan dalam bentuk natsar (prosa) dapat lebih mudah dipahami dan dihafal oleh para pemula. Alasan ini lah yang sering kita baca dalam berbagai kitab beliau. Berikut adalah beberapa kitab beliau yang fenomenal:

Fiqh
At-Taisir, yakni nadzam dari kitab Tahriru Tanqihi al-lubab karya Syaikhul Islam Zakariya al-Anshary dan Nihayatu at-Tadrib, yakni nadzam dari kitab Ghayatu at-Taqrib karya Syaikh Abi Syuja' al-Asfihani.

Ushul Fiqh
Tashilu at-Turuqat, yakni nadzam dari kitab al-Waraqat karya al-Juwaini Imamul Haramain.

Nahwu
al-'Imrithy, yakni nadzam dari kitab al-Jurumiyah karya Syaikh Abu Daud as-Shanhaji; kitab kecil tentang dasar-dasar gramatika bahasa Arab yang sangat monumental. Saat merangkai nadzam untuk kitab al-Jurumiyah ini Syaikh Yahya al-‘Imrithy memiliki tekad yang sangat kuat agar Al-Quran dan Hadits sebagai sumber segala ilmu dapat dipahami dengan baik dan benar melalui gramatika bahasa Arab. Kekuatan tekad inilah yang akhirnya membuat beliau juga menambahkan beberapa keterangan yang tidak ada pada kitab aslinya.  Hal ini dapat kita baca pada muqaddimah kitab ini yang berbunyi:

وَكَانَ مَطْلُـوْباً اَشَدَّ الطَّـلَبِ    ۞    مِنَ اْلوَرَى حِفْظُ الِّسَانِ اْلعَرَبِي

كَىْ يَـفْهَمُوْا مَعَانِيَ اْلـقُرْاَنِ    ۞    وَالـسُّنَةِ الــدَّقِـيْقَةِ اْلمَـعَانِي

Bahkan beliau juga menuliskan nadzam tentang pentingnya tekad bagi para penuntut ilmu. Tekap dan azzam yang kuat adalah pondasi keluhuran derajat dan kemanfaatan dunia akhirat bagi para pemuda dan penuntut ilmu. Pada bait ke-3 sebelum akhir dalam muqaddimah kitab al-‘Imrithy beliau berkata:

اِذِ اْلفَتَى حَسْبَ اعْتِقَادِهِ رُفِعْ ۞
وَكُلُّ مَنْ لَمْ يَعْتَقِدْ لَمْ يَنْتَفِعْ
Seberapa besar tekad pemuda,
maka seperti itulah tinggi derajatnya

Siapa yang tak memiliki tekad,
sungguh ia takkan peroleh manfaat

Begitulah, kecintaan Syaikh Yahya al-‘Imrithy terhadap ilmu membuat nama dan karya-karyanya tetap hidup sampai detik ini. Bahkan kita dan jutaan penuntut ilmu di dunia ini yang hidup ratusan tahun pasca wafatnya beliau (setelah tahun 988 H/ 1580 M) masih tetap mempelajari karya-karyanya agar lebih mudah memahami al-Qur'an dan Hadits. Setelah selesai membaca artikel ini mohon berkenan memberi hadiah Fatihah untuk beliau Syaikh Syarafuddin Yahya bin Nuruddin bin Musa bin Ramadhan bin Umairah al-‘Imrithy, semoga apa yang telah beliau berikan untuk ilmu dan agama ini diterima oleh Allah swt dan kita yang mempelajarinya diberi kemudahan dan pemahaman yang mendalam serta berkah dan bermanfaat.