Hari Pendidikan Nasional; Belajar Tanpa Batas

Hari Pendidikan Nasional; Belajar Tanpa Batas

Tak terasa Ramadhan tahun ini telah membersamai hari-hari kita lebih dari satu pekan. Meski setiap saat selalu dibayangi isu corona, kita tetap saja menjalani rutinitas Ramadhan dalam seminggu ini dengan penuh bahagia. Bersyukur sebab masih diperkenankan Tuhan untuk hidup sehat ditengah wabah pandemi Covid-19 yang semakin trending ini. Bahagia masih tetap bisa beraktivitas meski sedikit berbeda dari biasanya. Hampir seluruh kegiatan saat ini kita lakukan secara online. Bahkan belajar juga ikut-ikutan online. Ya, kita harus tetap belajar meski secara virtual.

Belajar dan berpendidikan adalah kodrat setiap makhluk yang bernyawa. Proses yang selalu dilalui oleh manusia, hewan, tumbuhan, dan seluruh makhluk hidup lainnya dalam kehidupan adalah wujud dari belajar dan berpendidikan itu sendiri. Sebagai manusia, kita telah belajar banyak hal sejak masih dalam rahim wanita mulia yang kelak kita sebut ibu. Kita mulai belajar mengenali berbagai macam rasa dari makanan yang dikonsumsi ibu, belajar mendengarkan suara-suara dari luar rahim, hingga belajar merasakan cahaya saat usia kita baru 7 bulan dalam kandungan.

Saat pertama kali menyapa dunia, kita tetap saja belajar tanpa kenal lelah. Belajar mengekspresikan rasa melalui suara dan gerak tubuh. Sampai akhirnya kita beranjak besar dan mengenal konsep belajar dan berpendidikan yang lebih terstruktur. Meski kita juga tetap belajar tentang segala hal dari apa yang kita rasakan sehari-hari. Belajar dari hewan, tumbuhan, dan seluruh elemen yang ada di jagad raya ini. Begitulah belajar dan berpendidikan, bahteranya akan terus berlayar hingga lautan tak dapat lagi ia temui. Long live education, belajar tanpa batas, itu istilah yang sering kita gunakan.

Belajar tanpa batas dan terus menerus itu tadi kalau kita istilahkan hampir mirip dengan konsep merawat. Ya, merawat bukan menanam. Meski kita mengenal istilah siapa yang menanam maka ia akan menuai. Sejatinya istilah ini kurang benar, sebab menanam tidak kita lakukan setiap saat. Hanya merawatlah yang sesuai dengan konsep long live education tadi. Sementara menuai adalah kegiatan memetik hasil dari apa yang kita lakukan. Bagaimana kita bisa belajar sepanjang hayat jika kata menuai selalu tersemayam dalam sanubari.

Janji akan menuai setelah menanam hanya mengajarkan kita abai terhadap proses. Pengennya sekali usaha langsung berhasil. Pendidikan jadi bertujuan untuk mendapat nilai-nilai di ijazah saja, kurang konsen dengan proses. Merawat (menurutku) identik dengan istiqamah menjaga tanaman sampai waktu panen tiba. Bukan tiba-tiba menanam langsung panen (menuai).

Disadari atau tidak, generasi saat ini telah sampai pada titik yang sangat menggemaskan. Bagaimana tidak, kita saat ini terlalu bangga dengan bibit unggul yang kita miliki. Sesumbar telah menanamnya di ladang yang sangat subur. Terlalu bangga telah melewati sepekan Ramadhan dengan berbagai ibadah sunnah lainnya. Namun selanjutnya abai untuk merawat bibit yang kita gadang-gadang tadi. Ketahuilah, bibit sehebat apapun, meski ditanam di ladang paling subur di dunia sekalipun, tanpa dirawat, pasti akan layu. Dan hasilnya jelas, pasti akan gagal panen.

Seperti tanaman yang perlu dirawat dengan diberi pupuk, disemprot dengan pestisida agar terhindar dari hama, disiangi agar pertumbuhannya berjalan dengan baik, dlsb. Maka kebaikan yang ada pada diri kita juga harus dirawat sedemikian rupa. Kita boleh menanam apa saja tapi tidak boleh lupa untuk selalu merawatnya.

Kecerdasan dan motivasi yang tinggi untuk terus belajar juga harus dirawat. Diberi pupuk dengan diskusi-diskusi rutin, dengan buku-buku yang kaya vitamin dan protein. Disemprot dengan nasihat-nasihat yang dapat membersihkan hati dari hama takabur. Dan yang terpenting, disiangi dengan selalu melatih dan menggali seluruh potensi yang ada. Jika proses ini dilaksanakan dengan baik, maka waktu menuai yang dijanjikan akan menjadi kenyataan.

Semangat dan potensi untuk menulis juga begitu. Prestasi di bidang apapun, mudah menghafal dan memahami pelajaran, suka bersedekah, rajin menolong, selalu melaksanakan sholat malam, puasa sunnah, tadarus, dan segala hal baik lainnya. Tanpa dijaga dan dirawat dengan baik, seluruh potensi dan hal-hal baik itu akan hilang diterpa zaman. Pohon kebaikan itu akan layu, dan bisa saja berubah menjadi pohon keburukan.

Pentingnya proses menjaga dan merawat juga pernah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw, makhluk paling mulia di dunia. Rasul berpesan, "Sebaik-baik perkara adalah yang dilakukan terus-menerus, meski hanya sedikit". Imam Ghozali juga mengatakan hal yang sama. Dalam salah satu pendapatnya, beliau berkata "Kebaikan yang tidak dilakukan secara continou sejatinya bukan hal yang baik. Bahkan, keburukan yang tidak dilakukan terus-menerus lebih baik dari kebaikan yang tidak konsisten". Dari sini kita belajar, bahwa proses merawat jauh lebih penting dari sekedar menuai hasil.

Terlepas dari konsep menanam dan menuai yang kita diskusikan. Sebagai orang Indonesia, saya tetap bangga karena negara kita sangat kaya dengan peribahasa. Terkait pentingnya merawat tanaman, mimpi, harapan, cita-cita, dan seluruh kebaikan lainnya, kita masih memiliki peribahasa lain yang mengajarkan hal itu. Peribahasa itu antara lain; Barakit-rakit ke hulu, berenang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, lalu senang kemudian.

Apapun cita-cita dan harapan kita, kebaikan yang kita usahakan tersemayam dalam diri, serta potensi dan anugrah yang telah Tuhan berikan, mari kita jaga dan rawat dengan baik. Terus belajar tanpa batas, kapanpun dan dalam kondisi apapun. Lebih-lebih hanya covid-19 kali ini. Kita harus ingat pesan Ki Hajar Dewantara, "setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah". Siapa pun yang menanam pasti akan berusaha sekuat tenaga merawat tanamannya. Bila proses ini kita laksanakan dengan baik niscaya hasil yang diperoleh pasti akan baik pula. Sebaliknya, siapa saja yang abai terhadap proses merawat dan belajar terus menerus ini maka tanamannya akan layu, kemudian gagal panen.

Selamat Hari Pendidikan Nasional 2020
Belajar, Bekerja dan Beribadah di Rumah