Catatan Workshop Aktif dan Kreatif Menulis Karya Ilmiah Berbahasa Arab di Era New Normal; Prodi Pendidikan Bahasa Arab STAIN Bengkalis

aktif menulis karya ilmiah berbahasa arab

Narasumber 1

Ahmad Ginanjar Sya’ban, M.Hum selaku pemateri pertama pada kegiatan workshop ini menyampaikan materi yang begitu urgen bagi para peserta. Di awal penyampaiannya Ginanjar mengutip ungkapan Ferit Orhan Pamuk, novelis Turki terkemuka dalam sastra pasca-modernis. Dengan lahjah Arab yang begitu fasih beliau mengakatan:

قرأت كتابا يوما ما؛ فتغيرت حياتي كلها، أما الكتابة فأغير جميع الناس

Suatu ketika aku membaca buku; kemudian seluruh hidupku menjadi berubah. Lalu dengan menulis, aku akan mengubah seluruh (pola pikir) manusia.

Selain tentang konsep karya ilmiah yang baik dan benar, Ginanjar juga memberikan banyak tips dan motivasi kepada para peserta yang notabenenya adalah para mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab STAIN Bengkalis.

Kunci utama untuk menjadi penulis hebat adalah dengan mulai menulis sekarang juga. Sebab sejatinya, 80% tulisan yang hebat adalah lahir dari kebiasan menulis bukan dari teori tentang menulis. Para penulis pemula lazimya akan bertemu dengan penyakit mudah jenuh dan mudah menyerah, ini adalah penyakit kronis yang harus dilawan oleh para penulis pemula. Solusinya adalah dengan memperbanyak bacaan, semakin banyak yang kita baca maka semakin bertambah pula pengetahuan yang bersemayam di otak kita. Dengan demikian maka menulis akan menjadi lebih mudah sebab otak telah menampung banyak informasi yang dapat dibagikan kepada para pembaca.

Konsepnya adalah “BACAAN > PENGETAHUAN > TULISAN”. Apa yang kita baca akan menjelma menjadi pengetahuan dan pengetahuan yan kita dapat akan lahir menjadi karya tulis abadi. Mereka yang tak pernah membaca maka takkan pernah menuliskan apa-apa.

Sebelum menutup materinya, Ginanjar mengutip pesan Pramoedya Ananta Toer tentang urgensi menulis bagi seseorang, “Orang boleh hebat setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Maka menulislah, engkau akan hidup selamanya meski jasad telah berselimut tanah.

Narasumber 2

Materi yang disampaikan oleh Narasumber kedua dalam workshop ini lebih bersifat praktis. Dr. Imam Ghozali, M.Pd.I yang telah banyak menulis karya ilmiah baik yang terbit dalam berbagai jurnal maupun buku-buku nasional menyampaikan pentingnya memulai kegiatan menulis dari objek-objek yang dekat dengan kehidupan para penulis. Untuk tahap pemula, penting untuk memulai dengan sesuatu yang ringan terlebih dahulu. Meski sejatinya yang ringan itu jika ditulis bisa menjadi berat juga, Imam Ghozali menyelipkan humor bernas di sela-sela materi yang disampaikan dan kemudian disambut tawa renyah para peserta.

Ghozali mencontohkan, sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, ide menulis dapat dicari dan ditemukan dari materi-materi perkuliahan yang selama ini dipelajari. Sebagai contoh saat kita belajar Shorof dengan kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyyah karya Imam Ali Ma’shum; kita bisa membuat karya ilmiah tentang (misalnya) metode belajar bahasa Arab Imam Ali Ma’shum dalam kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyyah, atau profil Imam Ali Ma’shum dan karakterisktik yang membentuknya dalam menulis kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyyah, atau bisa juga filosofi dalam pemilihan contoh kata kerja (fi’il) yang digunakan oleh Imam Ali Ma’shum dalam kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyyah, dan lain sebagainya.

Dari satu materi perkuliahan yang kita pelajari saja kita sudah bisa menulis tiga karya ilmiah berdasarkan contoh tadi. Apalagi jika yang kita pelajari lebih sampai tiga atau empat mata kuliah, tentu lebih banyak ide yang bisa kita artikulasikan dalam tulisan karya ilmiah. Begitulah menemukan dan menentukan ide, kita tidak perlu berpikir terlalu jauh sebab kadang malah membuat kita bingung dan akhirnya buntu. Padahal objek yang berada di sekeliling kita sejatinya layak dan sangat berharga untuk diteliti dan ditulis.

Langkah untuk menulis sebenarnya cukup sederhana; tentukan tema dan topik yang akan diteliti lalu buat kerangkanya, setelah itu mulailah menulis. Jika buntu, istirahatlah sejenak dari menulis dan beralih dengan kegiatan membaca atau menontotn film. Dengannya kita akan mendapat informasi baru yang dapat menyegarkan fikiran dan kembali fresh untuk menulis.

Sebagai mahasiswa, praktik menulis seharusnya sudah dimulai sejak semester pertama. Jangan menunggu semester akhir baru mulai menulis karena tuntutan skripsi, tesis, atau disertasi. Justru embrio menulis harus dilahirkan sejak masih dini. Semakin awal memulai kegiatan menulis ini maka akan semakin mempermudah proses menulis tugas akhir yang merupakan kewajiban setiap mahasiswa.