Bersatu Melawan Radikalisme, PCNU Bengkalis dan Polsek Siak Kecil Kaji Kitab Tafsir Munir Karya Imam Nawawi Al-Bantani

kajian kitab turats siak kecil'

Sebagai upaya deradikalisasi yang semakin marak terjadi dewasa ini, PCNU Bengkalis dan Polsek Siak Kecil bersinergi melaksanakan kajian kitab turats. Kegiatan diawali dengan sholat Isya berjamaah pada Rabu (24/02/2021) kemudian dilanjutkan dengan mengkaji kitab Tafsir Munir karya Imam Nawawi Al-Bantani.

Dalam menjelaskan muqaddimah kitab Marah Labid Tafsir Munir karya an-Nawai, Ketua PCNU Bengkalis, KH. Masdarudin, M.Ag sebagai narasumber juga mengeksplorasi sisi-sisi sosial kehidupan sehingga membuat peserta tampak sangat antusias. Dengan lugas KH. Masdarudin menegaskan bahwa firman Allah bukan hanya yang termaktub dalam al-Qur'an. Firman yang diturunkan melalui perantara Jibril, itulah al-Qur'an. Sementara yang disampaikan langsung kepada Nabi adalah Hadis Qudsi. Meski secara implisit tidak termaktub, tapi keduanya sama-sama menjadi petunjuk dalam kehidupan.

Pada sisi lain, Allah juga menganugerahkan akal kepada umat manusia. Posisi akal ini sangat penting dalam beragama. Bahkan dijelaskan bahwa "addin huwa al-aql, wa man la dina lah la aqla lah" (bahwa agama adalah akal, maka siapa yang tidak beragama maka tiada akal baginya). Terlepas dari kontroversi status hadis tersebut, namun dalam banyak ayat al-Qur'an, Allah juga menjelaskan pentingnya akal dalam kehidupan dan beragama. Sebagaimana ayat-ayat yang memuat penegasan ......afala ta'qilun, ......afala tadabbarun, ......afala tafakkarun dan lain sebagainya. Karena, sejatinya dengan akal manusia sudah dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sebagai contoh, meski tanpa al-Qur'an, akal manusia akan mengetahui bahwa mencuri adalah perbuatan terlarang yang tidak boleh dilakukan. Berbagi kepada orang lain misalmya, dengan akal saja manusia sudah paham bahwa itu merupakan perbuatan baik yang harus terus dilaksanakan secara konsisten.

KH. Masdarudin juga menjelaskan beberapa pendapat ulama tentang hukum-hukum Islam, misalnya pendapat as-Syarbini. Pada dasarnya hukum hanya ada 2; wajib dan haram, tidak ada mubah, makruh dan lain-lain. Yang wajib adalah melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan segala yang dilarang. Sedangkan yang haram adalah sebaliknya.

Dengan demikian, saat kita tidak melanggar perintah Allah maka kita sedang melaksanakan ibadah yang hukumnya adalah wajib. Saat kita duduk-duduk santai sejatinya saat itu juga kita sedang beribadah. Yakni beribadah meninggalkan larangan-larangan Allah. Saat tidur juga demikian, karena saat tertidur kita tidak menggunjing, tidak mencuri, tidak menindas dan tidak melakukan berbagai hal buruk lainnya.

Kegiatan semakin aktif saat para peserta kemudian mengajukan beberapa pertanyaan dan akhirnya dibuka kesempatan berdiskusi sebelum kajian ditutup. Dengan adanya madzhab, kita kadang menemukan kemudahan dalam beragama, namun bagaimana hukumnya jika kita sebagai muslim hanya memilih yang menurut kita mudah untuk dilaksanakan. Tanya peserta yang kemudian dijawab dalam forum diskusi oleh KH. Masadarudin.

diskusi kajian kitab'

Sesungguhnya beragama itu memang mudah, pak. Bahkan Allah menegaskan dalam al-Qur'an, yuridu Allahu bikum al-yusra wa la yuridu bikum al-'usr. Maka dengan adanya madzhab kita dapat memilih mana yang mudah untuk dilaksanakan. Bahkan dalam madzhab Hanafi, sholat sudah dikatakan sah meskipun hanya membaca surat atau ayat al-Qur'an tertentu (minimal tiga ayat pendek atau satu ayat panjang). Jadi beragama itu memang mudah, kita mau ikut madzhab mana silahkan asal tau mana yang diikuti. Sholat dengan mengikuti madzhab Syafi'i, Maliki, Hanafi, atau Hanbali boleh dan benar semua. Yang tidak benar itu yang tidak mau sholat. Terang KH. Masdarudin mengakhiri penjelasan jawabannya. (SM)